SHARE

 

PEMBEBASAN (21/06/2015)—Sejak siang hari, acara ‘Panggung Solidaritas Pembebasan Papua‘ di Posko Papua Zona Darurat, Bandung, berlangsung semarak. Poster-poster, spanduk dan lapak penjualan handycraft (gelang rasta, bermotif bintang kejora dan noken) mengisi lokasi halaman asrama mahasiswa Papua. Di sudut lokasi acara, ada aktivitas sablon kaos yang begitu kreatif dari Perpustakaan Jalanan.

Menjelang sore, kawan-kawan yang datang sekitar 90an orang. Acara Panggung Solidaritas Pembebasan Papua semakin meriah dan semangat dengan hadirnya kelompok kesenian musik dan tari dari mahasiswa Papua. Serentak pengunjung yang hadir ikut menari ala Papua, dengan langgam langkah kaki sesuai irama. Gerakan yang tampak sederhana namun sangat sulit ditirukan oleh kawan-kawan yang hadir dari luar warga Papua.

Acara apresiasi diselingi oleh orasi politik dari kawan-kawan pro demokrasi di Bandung. AMP Bandung diwakili Pian Pagawak lantas berorasi di hadapan pengunjung, Dilanjutkan oleh Markus selaku koordinator acara, Nas Karoba sebagai koordinator posko. Kemudian orasi politik juga disampaikan dari FMD UIN Bandung oleh Dede, dilanjutkan dengan orasinya komunitas Perpustakaan Jalanan, juga dari PEMBEBASAN turut menyampaikan orasi politiknya.

Menjelang buka puasa, acara dijeda untuk istirahat, dan dilanjut setelahnya dengan acara diskusi mengenai kekerasan dan situasi lainnya di Papua.

Solidaritas pembebasan Papua di Bandung berjalan dengan penuh semangat. Terutama dalam diskusinya membahas persoalan perjuangan pembebasan Papua, guna menemukan formulasi tepat menentukan siapa musuh bagi perjuangan pembebasan Papua, dan apa yang akan diperjuangkan, sehingga akan bertemu rumusan yang, paling tidak, mendekati kesesuaian perjuangan untuk pembebasan/kemerdekaan Papua. Termasuk menentukan bahwa musuh utama adalah kapitalisme, yang dalam prosesnya selalu bertujuan memperbanyak keuntungan segelintir pemilik modal, dan di situlah kepentingan seluruh rakyat baik di Indonesia dan Papua bisa bertemu. Begitulah garis besar dinamika dalam diskusi.

Tidak berhenti di situ, bahkan setelah acara diskusi selesai, beberapa kawan menampilkan MOP atau Stand Up Comedy a-la Papua. Kemudian berlanjut menyanyi bebas.(bp)

Leave a Reply