SHARE

Minal Aidzin Wal Faidzin. Dalam suasana hari raya Idul Fitri yang diberkahi oleh Allah SWT, kita seharusnya merayakan kemenangan dan kembali dalam kesucian. Pada susana ini juga harusnya kita saling memaafkan kesalahan sesama manusia, saling bersilaturahmi dan menebarkan kedamaian. Bersamaan dengan momen lebaran, kita juga disuguhi dengan hajatan 5 tahunan yang katanya pesta demokrasi, Pilkada serentak termasuk Jawa Tengah di tahun 2018 ini. Tidak ada bedanya dari pemilu-pemilu sebelumnya, banner-banner dan poster-poster kampanye terpampang disetiap sudut jalan. Janji-janji manis tak lupa disuguhkan para calon untuk menarik pemilih. Tetapi tak ada satupun calon yang menyentuh permasalahan rakyat sampai ke akarnya. Karena kita tahu bahwa dari berkali–kali pilkada terselenggara, tak ada calon yang benar–benar memikirkan nasib rakyat dan hanya akan menguntungkan para pemodal.

Hari ini tanggal 26 Juni 2018 dan masih berada di bulan syawal yang diberkati allah, kami aliansi Sukoharjo Melawan Racun menyadarkan rakyat dengan menulis “ 5 MENIT NYOBLOS 5 TAHUN DITINDAS” di jalan daerah Nguter. Tulisan tersebut sama sekali tidak ada tujuan menjerumuskan rakyat. Dari tulisan tersebut kami mencoba agar rakyat cerdas dalam berpolitik. Karena berkali–kali Pilkada dijalankan Penindasan dari Negara dan alat–alatnya masih terus terjadi. Kata – kata “5 MENIT NYOBLOS 5 TAHUN DITINDAS“ harusnya bisa menjadi cerminan rakyat, bahwa daripada kita buang–buang waktu untuk memilih dengan masa depan yang belum jelas lebih baik kita mengorganisir diri untuk membangun kekuatan rakyat bersama, dan membangun poros politik alternatif atas kekuatan rakyat sendiri tanpa bergantung ke partai–partai politik yang dimiliki para pemodal yang terbukti tumpul terhadap berbagai persoalan rakyat.

Namun, apa yang kami lakukan dianggap pihak aparat menghasut rakyat dan mebuat kerusuhan saat pilkada. Padahal sama sekali tidak ada niatan dari kami untuk hal tersebut. Awalnya, pada waktu kami sedang berkumpul dan berbincang bersama 2 warga, tiba-tiba saja 3 intel datang menghampiri kami dengan memfoto kami dan tulisan yang ada disekitar kami berkumpul. Setelah itu mereka langsung pergi. Kemudian disusul dengan kedatangan Panwascam (Panitia Pengawas Pilkada Kecamatan) yang mengklarifikasi serta menanyakan siapa yang menulis tulisan tersebut. Lalu tiba-tiba segerombol polisi dan tentara datang dengan merobek banner poskamling tempat kami berkumpul. Seketika mereka langsung mengintimidasi kami serta menuduh kami sebagai penghasut rakyat. Sempat terjadi adu mulut dengan kami dan mereka hingga membuat kegaduhan sampai-sampai beberapa warga datang menghampiri. Kami juga diancam akan dipanggilkan preman setempat dan diadu domba dengan warga. Lalu mereka memaksa kami untuk menunjukkan identitas, 2 kawan kami terpaksa menunjukkan identitas berupa KTP. 1 kawan kami dirampas dompetnya dan dipaksa untuk mengeluarkan identitasnya. Untuk menghindari gesekan dengan warga kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi.

Sikap kami jelas, rakyat harus membangun persatuan dan kekuatan politik alternatif diatas kekuatan rakyat sendiri, serta tidak tergantung dengan partai politik milik para pemodal yang tak pernah memikirkan nasib rakyat. Dengan berbagai represi yang kami terima kami tak akan memaafkan siapapun yang menindas dan sewenang-wenang terhadap rakyat. KAMI TAK AKAN TUNDUK! DAN AKAN TERUS MELAWAN! SAMPAI RAKYAT MENANG!

”Maaf kami tidak sempat mendokumentasikan tindakan represif yang dilakukan aparat.”

Nama aparat yang kami kenali :

1. Bahrun ST (Danramil Nguter)

2. Suprapto (Intel Polsek Nguter)

#5MenitNyoblos5TahunDitindas

#RakyatBersatuBangunKekuatanPolitikAlternatif

#RakyatBersatuTakBisaDikalahkan

#StopTindakanRepresifAparat

#TutupPTRUM

Leave a Reply