SHARE

[ Linda Sudiono, S.H ]

Problem gerakan perempuan selalu berayun pada persoalan mencari sebab-musabab penindasan terhadap perempuan. Ketikdasamaan menentukan sebab kemudian berpengaruh pada tahapan-tahapan perjuangan yang dituju. Seringkali yang sekunder kemudian yang dijadikan yang primer,  sehingga perjuangan perempuan berputar-putar pada persoalan terhadap tubuh. Betul, bahwa ‘kebebasan’ atas tubuh menjadi problem kaum perempuan, tapi benarkah itu yang menjadi sebab perempuan tertindas selama ribuan tahun?

Penindasan dan Perlawanan: Dari Awal Abad Sampai Abad Mesin

Berbagai analisa ilmiah terhadap sejarah dalam beberapa dekade terakhir telah membawa pemikiran massa pada logika analisa yang progresif dan ilmiah. Satu hal yang penting untuk kita cermati dari kemajuan ini adalah bangkitnya kesadaran ilmiah tentang korelasi yang intim antara perkembangan tahap produksi terhadap perubahan struktur sosial masyarakat. Dalam hal ini tercakup dialektika dominasi peran perempuan dalam berbagai tahap sejarah.

Penyatuan klan kedalam konsep masyarakat ‘negara’ menjadi cikal bakal perbudakan—corak produksi pertama yang memisahkan produsen dari hasil produksinya, melalui pencaplokan hasil produksi.[i]Budak melakuan produksi yang hasil kerjanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pemilik budak. Inilah awal masyarakat berkelas. Lantas apa pengaruhnya kondisi itu bagi kaum perempuan?

Sejak masyarakat berkelas, perempuan tidak lagi mempunyai otoritas produksi yang setara. Sebabnya? Konsep klan telah diubah menjadi unit ekonomi keluarga. Seiring dengan pilahan masyarakat pemilik hasil produksi dan non-pemilik hasil produksi, perempuan turut dipisahkan kedalam dua jenjang sosio-ekonomikal yang berbeda, meskipun dengan kuasa sosial yang sama-sama lemah.

Masyarakat perbudakan mencapai anti klimaksnya pada abad ke-5. Kekaisaran Romawi kuno yang merupakan representasi ‘Negara Budak’, runtuh. Pemberontakan para budak telah menggoncang pilar-pilar corak produksi perbudakan. Sistem manorial yang berbentuk pertanian fragmentatif dan kecil, menggantikan sistem sosial penguasaan budak. Kehancuran Romawi kuno sekaligus membawa kemunduran besar terhadap peradaban Eropa; dalam artian, Eropa menghadapi masa transisi yang panjang memasuki corak produksi feodalisme.

Perubahan dari perbudakan ke feodalisme memang telah menghapus perbudakan, tapi tidak memperbaiki kondisi kaum perempuan. Justru pada masa feodal, patriarki semakin dikokohkan. Peperangan demi peperangan antarkerajaan menempatkan laki-laki sebagai Ksatria Pembebas. Perempuan menjadi manusia kelas dua di puri-puri, dan perempuan yang tak masuk dalam kasta darah biru menjadi korban peperangan yang berlarat-larat—terbunuh, diperkosa, hidup di pengungsian, dan menghadapi kekerasan fisik maupun psikis.

Gerak sejarah terus mendobrak maju. Pasca Perang Salib II kondisi Eropa mulai tertata. Terbuka kembali kontak antara Eropa dengan Timur Tengah dan Afrika. Perdagangan mulai mencungul. Pasar internasional mulai ramai. Masa markantilisme lahir. Tandanya? Kota-kota benteng baru mulai dibangun. Di dalam kota-kota itu mulai menggeliat gilda-gilda. Awalnya gilda-gilda ini berperan untuk mencukupi kebutuhan kerjaan—membuat peralatan perang—maupun kebutuhan petani penggarap—alat-alat pertanian. Dalam perkembangannya, pemilik gilda ini menjadi cikal bakal borjuasi.

Kelahiran borjuasi memang membutuhkan waktu yang lama, tidak sekali tepukan. Mereka benar-benar muncul pada saat Revolusi Prancis pada abad ke-18. Kalau dihitunga sejak munculnya gilda-gilda, membutuhkan waktu 7 abad bagi kelas borjuasi untuk menumbangkan feodalisme. Sebut saja gerakan Albigensis di Perancis dan Italia, yang digawangi oleh kaum pedagang dan pengrajin untuk melakukan sekularisasi terhadap tanah-tanah milik gereja. Dengan membawa semangat individualistik, gerakan reformasi gereja menuntut kebebasan individu dalam hubungan vertikal tanpa perantara gereja. Dan, Revolusi Prancis menjadi patok perjuangan kaum borjuis. Matahari Eropa menyambut datangnya kapitalisme.

Dan, gerakan perempuan berpusar di antara perkembangan Kapitalisme yang masih muda itu. Muncul pada paruh terakhir abad ke-19, perempuan terus merumuskan arah perjuangannya. Mulanya gerakan itu terinspirasi dari maraknya perkembangan wacana peran publik perempuan pasca Abad Tengah. Abolisi yang dipelopori oleh perempuan kulit putih dari kalangan menengah ke atas, telah memicu perempuan untuk turun gelanggang. Harus diakui gelombang pertama perjuangan ini masih mengarah pada visi yang picik, terfokus visi yang sempit. Akibatnya, ketika Perang Sipil berakhir dan hak pilih diberikan secara luas kepada para mantan budak laki-laki,  banyak aktivis perempuan menolak bersekutu kembali dengan kaum kulit hitam. Tak pelak lagi, ketika pada akhir abad ke-19 hak pilih kaum perempuan berhasil diperoleh, gerakan perempuan memencilkan diri dari gerakan dan tuntutan yang lebih progresif. Watak borjuis yang individualistik, sektarian dan picik menjadi nuansa dominan pada awal gerakan pembebasan perempuan.[ii]

Situasi terus berkembang. Ketika Perang Dunia II usai, Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis lainnya bersikukuh mempertahankan gaya paranoid “Hofstadter”. Tujuannya sebagai taktik untuk meningkatkan solidaritas dalam negeri dan dunia guna menyerang eksistensi negara sosialis, khususnya sejak kemenangan Revolusi Oktober 1917 di Rusia. Bergandengan dengan model kebijakan “McCarthysme” untuk mengekang segala sesuatu yang berbau komunistik, serikat buruh dilarang dan dibersihkan dari pengaruh partai kiri. Guna membangun kestabilan dalam negeri dari kampanye kelas kelompok kiri, upah buruh ditingkatkan. Saat itulah dunia terbelah ke dalam dua tendensi yang berhadapan: kapitalisme vs sosialisme. Situasi ini secara langsung turut mempengaruhi tendensi ideologi feminisme gelombang kedua.

Cakupan ideologi feminisme gelombang kedua menggambarkan dua kecendrungan yang berbeda: Feminis Sosialis vs Feminis Radikal. Feminis Sosialis berangkat dari tesis bahwa penindasan perempuan merupakan bagian struktural dari penindasan lainnya, khususnya penindasan kelas. Di kubu lain, Feminis Radikal berdiri pada pijakan bahwa penindasan perempuan bersumber dari ketidaksetaraan jender.[iii] Dalam perkembangan selanjutnya terjadi pengkonstruksian yang semakin tajam terhadap wacana emansipasi perempuan di bawah dua tendensi feminisme itu.

Tiga bentuk identifikasi yang menjadi sumber penindasan perempuan yang universal dikemukan oleh para Feminis Radikal, meliputi: pengasuhan ibu biologis, keluarga berbasis perkawinan dan heteroseksual. Di antara yang termasyur adalah gagasan Feminis Radikal berasal dari Shulamith Firestone. Bagi  Shulamith, patriarki muncul karena struktur biologis. Menurutnya hanya kaum perempuan yang memiliki kemampuan untuk mengandung dan melahirkan. Pendekatan ini terkesan ahistoris dan mengabaikan latar belakang konstruksi penyingkiran perempuan, dengan fokus analisa hanya pada faktor internal: “Mengutuk patriarki dengan menyalahkan perempuan”.[iv]Identifikasi sumber penindasan dalam kacamata Feminis Radikal yang lainnya adalah anggapan bahwa hubungan seksual merupakan instrumen laki-laki untuk menjalankan dominasinya terhadap perempuan. Teoritisi-teoritisi dari pandangan ini memberikan penekanan pada heteroseksualitas sebagai unsur utama patriarki. Gagasan tersebut terutama dikemukakan oleh Adrienne Rich.

Ini Tububuhku, Mana Tubuhmu?

Setelah fase gelombang kedua, wacana yang muncul selanjutkanya merupakan turunan atas respon terhadap seputar tubuh perempuan dalam simbol seksualitas dan pengklarifikasian identitas individu perempuan. Dua teoritikus femis, Margaret Sanger dan Maria Stopes, membabarkan tentang problem kaum perempuan untuk meraih otoritas tubuh dalam reproduksi, khususnya penggunaan alat kontrasepsi dan kepuasan seksual.[v] Hakikat kebebasan individu ini menjadi dasar konstruksi teori-teori sosial berpredikat “post strukuralis”.

Teori post strukturalis lebih banyak menitikberatkan perubahan identitas individu dalam masyarakat. Tubuh manusia adalah salah satu sasaran pengontrolan sosial melalui berbagai media kampanye maupun norma yang membudaya. Oleh sebab itu, manusia bebas adalah manusia yang mampu mengkonstruksi dirinya sendiri, dan menemukan kebenaran dalam wajahnya sendiri, karena tidak ada kebenaran abadi. [vi] Aktivis feminis yang tergolong post-strukturalis adalah Judith Butler. Menurut Judith Butler, kelemahan gerakan feminis adalah mengasumsikan bahwa identitas semua perempuan adalah sama. Ia menolak adanya perumusan kaku mengenai siapa perempuan. Baginya perumusan yang cair dan luas berdasarkan perbedaan pengalaman dan sikap akan berguna untuk merumuskan metode perjuangan yang kaya dan tepat.

Pada dekade terakhir, perjuangan “atas tubuh” ini memang lebih banyak menjadi fokus para aktivis perempuan. Alih-alih melihat pada perempuan-perempuan di negara berkembang yang miskin dan kelaparan, mereka lebih asyik mengumbar perhatian pada “Apa Aku?” dan “Bagaimana Aku”; sebuah keakuan sektarian dan munafik di bawah pengagungan terhadap individualitas dan perkembangan kapasitas yang individualistik. Mereka melupakan perempuan-perempuan miskin yang selalu terhias di ujung bibir dalam setiap kampanye untuk menarik simpatik.

Perkembangan parah selanjutnya adalah dihidupkannya kembali secara bangga konsep “sisterhood”. Konsep tersebut berslogan: “Kami semua perempuan sama rasa. Jika kau perempuan maka pilihlah perempuan sebagai pemimpinmu.” Atau slogan mereka bisa diringkus dalam sederet kalimat sederhana: “Kebebasan seksual untuk semua perempuan.” Problem tersebut kemudian diangkat sebagai isu “utama” dan “terpenting” untuk membebaskan perempuan dunia. Sebuah paranoid yang lahir dari tradisi borjuis yang picik dan penuh ego.

Mungkin mereka pada lupa pada persoalan perempuan lain, perempuan kulit hitam, misalnya, yang tak tersentuh kepentingannya. Seolah mereka bukan perempuan karena tak memiliki masalah utama yang sama dengan rumusan para aktivis itu. Gerakan feminisme kulit hitam menggambarkan secara gamblang bahwa, apa yang menjadi sumber penindasan perempuan kulit putih atau dari kalangan menengah ke atas adalah sama sekali berbeda dengan apa yang mereka alami.[vii]

Ketika perempuan kulit putih dan kalangan menengah atas bicara tentang perlunya memperluas kesempatan kerja bagi perempuan untuk membebaskan mereka dari belenggu domestikasi, mereka telah secara serius mengabaikan jenis pekerjaan kasar yang secara terpaksa dilakukan oleh para perempuan pekerja. Ketika mereka sibuk dengan kebebasan terhadap tubuh dan aborsi, perempuan kulit hitam justru sedang berjuang untuk mempertahankan fertilitas mereka. Takkan ada kebebasan tubuh dan identitas perempuan kalau pendidikan masih sulit mereka dapatkan. Takkan ada kebebasan seksual yang aman dan orgasme yang memuaskan kalau tubuh mereka masih lapar dan obat-obatan sulit mereka dapatkan. Takkan ada “sisterhood” kalau masih ada hiriarkis sosial antara perempuan pimpinan dan perempuan bawahan sebagai kuli. Artinya, ketika mereka lapar, tentu yang pertama perlu dipecahkan adalah isi perut, bukan ‘kebebasan’ tubuh. Di situlah penganut gagasan “sisterhood” pandir dalam melihat problem perempuan secara utuh.

Memahami Problem: Basis dan Suprastruktur

Fenomena-fenomena sosial merupakan kesatuan hubungan dialektis dari peristiwa sejarah yang terjadi. Dari sinilah akan ditemukan hukum gerak sejarah berdasarkan realita dan emperisme sejarah untuk menguak kenyataan dari kesadaran palsu yang menjadikan manusia terasing dari lingkungan serta dirinya sendiri. Pandangan materialisme sejarah ditegaskan oleh Marx dan Engels sebagai hubungan timbal balik manusia dan lingkungannya yang diperantai oleh kondisi sosial. Artinya Marx menolak pengandaian hubungan manusia dan lingkungan merupakan hubungan satu arah di mana manusia bertindak sebagai makhluk reseptif. Memang benar bahwa alam memberikan landasan bagi manusia untuk bertindak dan bekerja. Namun, satu hal yang pasti adalah perkembangan sejarah selanjutnya tidak mungkin terjadi tanpa adanya kerja yang dilakukan manusia. Dengan demikian proses manusia memahami alam adalah proses yang timbal balik.[viii]

Lantas bagaimana seharusnya kita memahami konsepsi sejarah untuk mengenal realita lingkungan?

Jawabannya sepenuhnya tergantung dari kemampuan kita untuk menjabarkan proses sesungguhnya dari produksi. Yakni berangkat dari produksi material dan memahami bentuk hubungan yang diciptakan oleh mode produksi tertentu sebagai basis dari keseluruhan sejarah. Dengan demikian kita dapat memahami perbedaan produk teoritik dan bentuk kesadaran—agama, filsafat, etika—sebagai hasil dari praktik materiil dan resiprositas variasi sejarah satu wilayah dengan lainnya.[ix]

Kenyataan dari perkembangan kondisi fundamental sejarah adalah, bahwa manusia butuh untuk menciptakan sejarah. Untuk dapat hidup, aksi sejarah yang harus dilakukan pertama kali adalah proses produksi bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini merupakan kondisi fundamental dari keseluruhan sejarah umat manusia. Kedua, pemenuhan terhadap kebutuhan untuk hidup mendorong munculnya kebutuhan baru. Dalam hal ini termasuk kebutuhan akan kebudayaan, spiritual, dan lain sebagainya. Yang ketiga, kebutuhan reproduksi manusia untuk mempertahankan kelangsungan entitasnya dalam hubungan antarmanusia.

Dalam proses pembaharuan kehidupan, terjadi pembagian kerja antarmanusia, yang dalam perkembangan mendorong pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki. Ketika pengelompokan berdasarkan klan diseparasi menjadi pengelompokan keluarga inti sebagai unit masyarakat terkecil, sejak perempuan kehilangan kendali atas produksi utama kebutuhan klan, maka kepemilikan pribadi mulai meninggalkan jejak pertamanya di dalam keluarga, dalam wujud kepemilikan suami/ ayah atas isteri/anak.[x] Dari sinilah berawal alienasi terhadap perempuan dan penindasan kelas yang mewarnai perjalanan sejarah umat manusia.

Dengan landasan itu, perjuangan perempuan akan menjadi bagian dari sejarah dunia. Alienasi ini yang akan mampu menciptakan kekuatan besar yang tidak terelakan dari massa perempuan yang tertindas secara ekonomi. Dengan demikian, perjuangan perempuan menempatkan diri tidak hanya pada perjuangan lokalis atau sektoral. Sejarah alienasi terhadap kaum perempuan menciptakan keterhubungan global, dimana akar alienasi ini akan menempatkan posisi perempuan pada potensi penindasan ekonomi yang sama. Tanpa semua ini, kekuatan kesadaran penindasan hubungan ekonomi pada perempuan tidak dapat berkembang secara universal, karena adanya kekuatan besar untuk mempertahankan status quo yang dikelilingi oleh kesadaran-kesadaran yang supersitisi.

Perjuangan Perempuan Sosialis

Berdasarkan landasan basis dan suprastruktur itulah Feminis Sosialis memijakkan perjuangannya. Dalam Revolusi Yang Dikhianati Leon Trosky menulis demikian:

“Revolusi Oktober dengan jujur memenuhi kewajibannya kepada kaum perempuan……dengan sungguh-sungguh menjamin akses perempuan ke segala bentuk kerja ekonomi dan budaya. Walaupun demikian, revolusi yang paling berani sekalipun…tidak akan dapat mengubah perempuan menjadi laki-laki atau lebih tepatnya tidak dapat membagi diantara mereka beban kehamilan, persalinan, penyusuan dan perawatan anak. Revolusi membuat satu langkah heroik untuk menghancurkan apa yang disebut ‘rumahtangga’ …dimana perempuan kelas pekerja melakukan kerja rodi dari kanak-kanak hingga wafatnya. ..penyerapan total atas fungsi-fungsi rumahtangga di dalam keluarga oleh lembaga masyarakat sosialis, yang menyatukan semua generasi dalam solidaritas dan gotong royong, akan membawa pembebasan sejati dari belenggu yang telah berusia ribuan tahun untuk kaum perempua, dan dari situ akan membebaskan juga pasangan yang saling mencintai…”[xi]

Dalam kutipan panjang tersebut Trotsky hendak menganalisa antara kaitan fondasi struktur ekonomi politik negara dan persoalan perempuan. Ia menempatkan analisis persoalan perempuan pada ketersediaannya bertindak sebagai tenaga kerja yang handal dan setara. Perempuan memang mampu menjadi tenaga kerja yang revolusioner seandainya belenggu budaya yang telah berusia ribuan tahun dapat dibebaskan. Dan, hanya revolusi yang akan membawa perubahan pada budaya solidaritas, gotong royong dan kolektivitas yang tinggi sehinnga mampu memberikan pembebasan sejati pada perempuan. Pada tahapan ini tidak ada lagi ketamakan yang dirangsang oleh perolehan materiil yang berbeda-beda. Perempuan tak lagi menangung beban ganda karena kerja domestik telah diakomodir oleh fasilitas sosial. Pun, tidak ada lagi paksaan untuk melakukan aborsi ataupun paksaan untuk melahirkan karena manusia pada hakikatnya telah terbebaskan, seiring dengan perubahan basis ekonomi dan politik masyarakat. Dengan demikian akan terbebaskan pula pasangan manusia yang saling mencintai tanpa embel-embel perbudakan domestik, pelecehan seksual, ataupun penipuan dan perselingkuhan yang menyakitkan serta kebebasan seksual yang tidak bertanggungjawab.

Trotsky menggambarkan capaian revolusi pada pembebasan sejati kaum perempuan, bukan berkutat pada apa identitas perempuan dan laki-laki atau menyamakan mereka. Revolusi adalah membebaskan produktivitas seluruh umat manusia sebagai tenaga kerja, tanpa terkecuali perempuan, agar menjadi manusia yang sejati. Itu yang sebenarnya.

Sebetulnya apa yang dipaparkan Trosky tak ada yang baru. Karl Marx  dalam Manifesto Komunis telah menyinggung hal tersebut:

“Borjuis memandang isterinya hanya sebagai suatu perkakas produksi belaka. Ia tahu betul bahwa perkakas-perkakas produksi harus digunakan bersama, dan kesimpulannya berarti: bahwa nasib untuk digunakan bersama akan menimpa pula kaum perempuan. Borjuis sama sekali tak mempunyai dugaan bahwa sasaran sebenarnya yang dituju adalah justru menghapuskan kedudukan kaum perempuan, sekadar dijadikan perkakas produksi. Lain daripada itu, tak ada yang lebih menggelikan daripada kegusaran borjuis terhadap apa yang mereka namakan hak bersama atas kaum perempuan yang katanya secara resmi berlaku di kalangan Komunis. Komunis tidak perlu melakukan hak-bersama atas kaum wanita; hal tersebut telah ada di hampir sepanjang segala zaman. Borjuis kita, tidak puas dengan hal bahwa untuk mereka telah tersedia isteri-isteri dan anak-anak gadis proletar, belum lagi pelacur-pelacur biasa, mereka sangat gemar saling menggoda isteri di kalangan mereka sendiri. Dalam kenyataannya, perkawinan borjuis adalah suatu sistim isteri-isteri untuk bersama. Komunis paling banyak hanya lah dapat dituduh bahwa mereka hendak melakukan hak-bersama atas kaum perempuan secara syah dan terang-terangan, hendak menggantikan yang sembunyi-sembunyi secara munafik. Lain daripada itu, terang lah dengan sendirinya bahwa hapusnya sistim produksi yang sekarang ini tentu akan mengakibatkan pula hapusnya hak-bersama atas kaum perempuan yang timbul dari sistim tersebut, yakni hapusnya pelacuran, baik yang resmi maupun yang tidak resmi.”

Analisis Marx mengenai posisi perempuan mengacu pada realita produksi materiil dalam masyarakat. Pada masyarakat borjuis, perempuan merupakan alat reproduksi untuk menciptakan tenaga kerja dalam proses produksi. Tidak heran ketika ledakan pendudukan menyebabkan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, diciptakanlah serangkaian alat kontrasepsi yang lebih banyak ditujukan untuk kaum perempuan dan diserahkan seluruh aspek kerja pengasuhan anak kepada perempuan sebagai pekerja domestik.

Lantas sogokan apa yang diberikan agar perempuan tetap nyaman pada posisinya? Diberilah sedikit ruang kepada perempuan di wilayah publik. Perempuan ditempatkan pada posisi-posisi yang strategis untuk bersaing bersama laki-laki. Bagaimana dengan kaum perempuan yang justru tertindas oleh kuasa-kuasa agen perempuan mereka? Jawaban mereka singkat: “Salah sendiri tidak mampu bersaing.”

Dari sini mulai terjadi separasi tuntutan perempuan berdasar kelas. Dalam salah satu publikasinya diZvezda, Lenin menulis :

“Dalam banyak kasus hak untuk perceraian akan menyisakan ketidaksadaran di bawah kapitalisme, dimana penindasan seksualitas adalah ditentukan oleh faktor ekonomi. Tidak peduli berapa besar demokrasi yang terdapat dalam masyarakat kapitalisme, perempuan tetap menjadi “budak domestik”…tetapi kaum marxist menyadari bahwa demokrasi tidak menghilangkan penindasan kelas. Dia hanya membuat perjuangan kelas menjadi lebih langsung, luas dan terbuka…pemenuhan kebebasan perceraian, suatu hal yang akan jelas perempuan sadari adalah bahwa sumber dari “perbudakan domestik”nya adalah kapitalisme bukan lemahnya hak yang diperoleh…”

Uraian Lenin tersebut berbeda dengan kaum Femenis Radikal yang hanya sibuk pada persoalan ‘kebebasan sexual’. Pengalaman Revolusi Oktober 1917 di Rusia telah memberikan landasan riil untuk mengidentifikasi substansi persoalan perempuan di bawah sistem kapitalisme. Semua tuntutan taktis perempuan terhadap hak spesifiknya akan berwatak formal, terbatas, sempit, kondisional akan sulit untuk direalisasikan tanpa adanya latar belakang analisis kelas. Karena hanya dengan analisa kelaslah latar belakang hukum objektif masyarakat yang menjadi sumber penindasan bisa terkuak.

Hal ini lebih jelas dipaparkan Lenin dalam kritiknya terhadap Inessa Armand:

“Apa yang harus kamu lakukan adalah memisahkan mereka secara jelas (kebebasan cinta) dan meng-kontras-kan mereka berdasarkan pandangan proletarian. Itu yang harus diletakkan pada fakta objektif, yang sebaliknya akan diambil oleh mereka (borjuis) halaman yang tepat dari pamfletmu, mengintrepretasikan berdasarkan pandangan mereka, mendistorsi idemu dan membingungkan pekerja…. apa yang telah kamu capai (kebebasan cinta) bukanlah merupakan kontradiksi yang ditunjukan oleh tipe kelas, tetapi sesuatu yang kebetulan.”

Apa yang ingin ditegaskan oleh Lenin adalah kecermatan dalam mengidentifikasikan faktor penindasan perempuan berdasarkan latar belakang situasi yang objektif. Yakni berdasarkan logika materialisme yang historis. Kerangka ini diterapkan untuk menghindari pemanfaatan ideologi feminisme sebagai kesadaran palsu atau bayangan realita  yang terbalik dalam rangka penyamaran kenyataan dari tatanan yang menindas.

Pada akhirnya esensi manusia yang alamiah menunjukkan persoalan sesungguhnya dari perjuangan perempuan. Problemnya bukan lagi pada seberapa besar dia mampu mengidentifikasikan kasus spesifik perempuan dalam bentuk tuntutan taktis, misalnya: pelegalan aborsi dan pelacuran, kebebasan cinta, kebebasan perceraian. Tapi, terletak pada seberapa cermat kita mampu menyadari landasan munculnya persoalan spesifik perempuan dan membersihkan akar penindasan dari identifikasi superfisial [kulit] berdasarkan latar belakang sejarah kehidupan manusia yang objektif, yaitu latar belakang berdasar relasi kelas.

Jadi, problem kita saat ini sekerat roti atau persaudaraan perempuan?***

——-

[i] Marx and Engels, The German Ideology part One, Student Edition, Trowbridge, Dotesios, 1970.

[ii] Barbara Epstein, Apa yang Terjadi dalam Gerakan Perempuan, Monthly Review, Volume 53, Nomor 1 Mei 2001

[iii] Ibid

[iv] Shulamith Firestone, the Dialectic of Sex, Cape, 1971

[v] Deborah G Felder, 100 Wanita Paling Berpengaruh Sepanjang Masa, Tangerang, Karisma Publishing Group, 2008

[vi] PIP Jones, Pengantar Teori-Teori Sosial, Dari Teori Fungsionalisme hingga Postmodernisme, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2009.

[vii] Patricia Hill Collins, Black Feminist Thought, Routledge, New York and London,

[viii] Dede Mulyanto, Antropologi Marx, Bandung, Ultimus, 2011

[ix] Marx dan Engels, Op.cit

[x] Ibid

[xi] Leon trotsky, Revolusi yang Dikhianati, Yogyakarta, Resist Book.

—–

  • Tulisan ini pernah dimuat di www.tikusmerah.com. Diterbitkan ulang untuk kepentingan pengetahuan dan propaganda.
  • Linda Sudiono, S.H, adalah penggemar kucing. Selain itu aktif di berbagai kelompok diskusi yang membahas tema-tema perempuan. Sekarang tinggal di Yogyakarta. Saat ini sedang studi magister di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

Leave a Reply