SHARE

Ternate (18/12/17), Solidaritas Gerakan Peduli Tani (GEPTA), yang salah satunya tergabung organisasi Mahasiswa PEMBEBASAN (Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional) melakukan aksi serentak daerah, di Ternate dengan tema “Usut Tuntas Sengketa Agraria Petani Kecamatan Galela”.

30-an massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Gerakan Peduli Tani (GEPTA), mulai melakukan aksi pada pukul 09.00 WIT, di depan Dodoku Ali. Dalam tuntutan aksi, GEPTA menyerukan agar Hak Guna Usaha (HGU) PT. KSO Capital Casagro dicabut, karena HGU-nya tidak jelas asalnya. Juga untuk mengembalikan 2.000 ha tanah kepada petani Galela dan mengecam TNI-Polri dan menuntut mereka untuk berhenti melakukan penangkapan, intimidasi, kriminalisasi, dan pemenjaraan terhadap petani Galela.

Sebagai bentuk pengecaman pelanggaran HAM, GEPTA juga menyerukan untuk tarik TNI-Polri dari kawasan lahan petani Galela, tangkap dan adili pelaku penggusuran dan kriminalisasi terhadap Ibu Juara, Asiasi, Pak Imam dan anaknya. Hal lain yang disampaikan adalah berikan demokrasi seluas-luasnya untuk rakyat tertindas, fasilitas yang layak bagi pedagang kaki lima (PKL), hentikan kriminalisasi terhadap perempuan, berikan 50% tempat untuk perempuan di ranah publik, stop poligami, hentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak serta juga stop perampasan lahan Petani di Maluku Utara.

“Bumi, air dan kekayaan alam di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Begitulah bunyi dari amanat UUD pasal 33 ayat 3, dan bukan menjadi suatu fenomena yang aneh ketika mengetahui betapa eratnya perselingkuhan antara pemerintah dan pemodal, tetap saja ditemukan berbagai macam motif perampasan, pembodohan, intimidasi, kekerasan, kriminalisasi, pemenjaraan dan manipulasi hak milik tanah rakyat. Perampasan serta manipulasi hak tanah milik warga ini juga dialami oleh petani Kecamatan Galela yang ada kabupaten Halmahera Utara, Malut”. itulah seruan awal Kordinator Lapangan, Mitha Sosialis, sebelum membacakan sikap di depan Dodoku Ali.

Aksi yang hanya didampingi oleh beberapa intel kepolisian ini, berjalan dengan aman. Massa aksi kemudian melanjutkan aksinya ke Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate. Di sepanjang jalan menuju RRI Ternate, massa aksi terus bergantian berorasi, seorang orator yang juga bagian dari massa aksi menyampaikan bahwa persoalan perampasan lahan terhadap Petani Galela oleh PT. KSO Capital Casagro ini, sudah berjalan sekitar 27 Tahun, dan 10 desa harus menjadi korban. Desa tersebut diantaranya: Barataku, Toweka, Simau, Ngidiho, Gotalamo, Dokulamo, Duma, Kira, Limau, dan Lolonga.

Sesampainya massa aksi di RRI Ternate pukul 09.20 WIT, massa aksi tak henti-hentinya mengecam tindakan kesewenang-wenangan aparat TNI-Porli yang membela PT. KSO Capital Casagro dan menjadi penindas, alat represi negara dan untuk tuan pemodalnya lewat lagu yang diberi judul “Tiga Setan Penindas Rakyat”.

“Tindakan represif dan kriminalisasi ini benar-benar dialami petani Galela beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 2-4 Desember 2017, ketika PT. KSO melakukan penggusuran lahan milik seorang warga bernama Pak Imam, dan anaknya dikriminalisasi oleh pihak TNI-Polri, juga mengintimidasi 2 orang warga, yaitu Ibu Juara dan Asiani,: begitulah yang di sampaikan oleh seorang orator di depan RRI.

Seusai menyampaikan orasi, Korlap membacakan sikap di depan RRI sekaligus meminta kepada pihak RRI agar mempublikasikan tuntutan massa aksi. Waktu menunjukan pukul 09.33 WIT, Massa aksi kemudian beranjak ke rute selanjutnya, yaitu Pasar Barito. Seperti perahu berputar haluan, kali ini lebih jauh, melewati titik awal aksi. Dalam perjalanan, orasi politik terus diserukan, satu-persatu massa aksi bergantian berorasi.

Seperti biasanya, satu persatu, massa aksi bergantian untuk berorasi. Mulai dari memperkenalkan persoalan perampasan lahan, represifitas, kriminalisasi dan penipuan yang dialami warga, sampai dengan pengutukan terhadap perusahaan yang membawa malapetaka bagi warga kecamatan Galela.

“Dengan datang dan beroperasinya perusahaan-perusahaan yang ada di Galela, menjadi malapetaka besar bagi petani Galela, karena merampas ruang hidup petani, apalagi dengan menggunakan alat repersif untuk membungkam gerakan Petani Galela, itu adalah tindakan tidak manusiawi” ujar Arbi M.Nur, selaku massa aksi dari GEPTA dalam bobotan orasinya.

Persoalan pengusuran lahan warga kian marak terjadi, dibarengi dengan tindakan represif dan kesewenangan dari pihak keamanan, mengkriminalisasi warga yang mempertahankan tanahnya yang digusur korporasi.

Hingga saat ini, menurut salah satu orator dalam orasinya, bahwa “Pemerintah tidak pernah, dan tidak akan bisa menyelesaikan sengketa agraria, karena pemerintahan yang di pimpin Jokowi-JK sangat bergantung pada ekonomi Kapitalisme (Pemodal) dan Neo-Liberalisme (pasar bebas), maka sudah pasti dan tidak mengherankan, kalau perusahan yang beroperasi di indonesia, khususnya di kecamatan Galela yang tanahnya di rampas itu, terus di intimidasi dan direpresi oleh aparatur negara, TNI-Polri.”

Massa aksi juga tidak lupa mengajak PKL di Ternate untuk jangan takut dan harus berserikat. Karena dengan serikat, hak-hak PKL yang dirampas dan sering dibodohi oleh Pemkot Ternate bisa dilawan dan dimenangkan.

“Buktinya, di Kepulauan Sula, Maluku Utara, sudah ada serikat, namanya Serikat Pedagang Kaki Lima Berlawan (SPKLB), yang dibangun oleh Organisasi Mahasiswa PEMBEBASAN di Kep. Sula,” ungkap seorang orator massa aksi.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.45 WIT. Massa aksi pun beranjak ke rute selanjutnya, yang menjadi rute terakhir, depan Pasar Gamalama. Terlihat ada 4 orang dari kepolisian yang berseragam lengkap, menghampiri massa aksi, mereka mendatangi massa aksi dan mengambil gambar. Seperti biasanya, orasi-orasi politik pun bergantian dari satu massa aksi ke massa aksi yang lain untuk menyampaikan tuntutan-tuntutan aksi. Setelah orator-orator dari massa aksi selesai berorasi, Korlap, Mitha Sosialis pun membacakan tuntutan aksi yang dikampanyekan oleh Solidaritas Gerakan Peduli Tani (GEPTA). Pembacaan tuntutan aksi menjadi agenda pamungkas aksi tersebut. (ajn/nad)

Leave a Reply