SHARE

Pasangkayu, 9 Desember 2017 – Perjuangan petani Polantojaya untuk mempertahankan lahannya masih tetap berlanjut. Pada sidang yang pertama, petani Palantojaya yang diwakili oleh Ronald Siahaan dan Yuyun selaku kuasa hukumnya, telah membacakan eksepsi mereka kepada jaksa penuntut umum. Sidang kali ini digelar untuk mendengar kembali pembacaan eksepsi oleh Khidir, kuasa hukum petani Polantojaya atas nama Mulyadi.

Pada sidang keempat pada tanggal 7 Desember 2017, dengan agenda pemberian jawaban dari jaksa penuntut umum. Sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan, sidang seharusnya di gelar pukul 14.00 WITA. Namun, persidangan baru dapat dimulai pukul 18.30 WITA. Sidang berlangsung dengan diikuti sekitar puluhan petani Polantojaya sebagai bentuk solidaritas. Beberapa warga diantaranya membawa pamflet yang bertuliskan tuntutan mereka. Namun, jawaban penuntut umum atas eksepsi petani Polantojaya tidak sesuai dengan harapan para petani yang telah dikriminalisasi.

Menurut kuasa hukum petani Polantojaya, Febrianto, akan tetap mempertahankan eksepsi para petani yang telah dibacakan, meskipun jawaban jaksa penuntut umum tidak sesuai dengan harapan petani Polantojaya.

“Kami tetap mempertahankan eksepsi yang kami bacakan pekan lalu. Jawaban dari jaksa penuntut umum tidak sepenuhnya menjawab eksepsi dari kami,” kata Febrianto (7/12).

Khidir membacakan eksepsi selaku kuasa hukum atas nama Mulyadi (9/12).  Sidang digelar di pengadilan Pasangkayu, dimulai sejak pukul 14.00 WITA sampai 15.40 WITA. Menurut Khidir, dakwaan jaksa penuntut umum terhadap petani Polantojaya terlalu berlebihan dan tidak masuk akal.

“Bahwa sangat tidak masuk akal 4 orang bisa memetik buah sawit dan mengangkat sampai ke pinggir jalan dalam waktu yang begitu dengan jumlah 2.830 (dua ribu delapan ratus tiga puluh) kg karena jaksa penuntut umum tidak menjelaskan sejak kapan 4 orang memanen dan diketahui oleh security sekitar jam 09.00 WITA dengan rata-rata berat satu tandan buah segar seberat rata-rata 15 kg,” ujar Khidir (11/12).

“Bahwa menurut riset data yang dikeluarkan oleh Kemeterian Pertanian, untuk produktivitas maksimal per hektar adalah 3 ton/ha/tahun, dimana untuk petani adalah 1 ton/bulan dan sektor swasta/pengusaha itu 1,5 sampai 2 ton/bulan, belum mencapai 3 ton/bulan (data tahun 2015 oleh Sawit Watch). Menurut keterangan jaksa penuntut umum dalam dakwaannya, tandan buah sawit ada sebanyak 2.830 kg. Ini berarti dalam sepanjang tahun 4 orang terdakwa melakukan pemanenan. Ini semakin menunjukkan ketidaksesuaian dakwaan oleh jaksa penuntut umum di mana panen hanya satu hari dan waktu hanya beberapa jam saja dengan jumlah panen sebanyak 2.830 kg,” lanjut Khidir.

Persidangan mendengarkan putusan sela dari majelis hakim dilaksanakan pada hari kamis, 14 Desember 2017 mendatang. Menurut Agung, saat sidang putusan nanti, petani Polantojaya akan menggelar solidaritas kembali agar petani dibebaskan sepenuhnya. (abd/nad)

Leave a Reply