SHARE

Sumber Foto: http://www.genehaasdraws.com/wp-content/uploads/2011/10/14E-Maxim-Gorky-178x214.jpg

 

 

 

[ Edo W. Adityawarman¹

Di Nizhny Novgorod, kira-kira 400 kilometer sebelah timur Moskwa, pada tanggal 16 Maret 1868, Alexei Maximovich Peshkov dilahirkan. Nantinya, ia akan dikenal, atau mengenalkan diri dengan nama Maxim Gorky—Maxim si Getir.

Ketika berumur 5 tahun, Gorky ditinggalkan oleh orang tuanya, lalu hidup bersama kakeknya, seorang pekerja, yang bersusah payah menyambung kehidupan di Astrakhan. Keadaan yang sulit akhirnya membuat sang kakek memaksa Gorky kecil yang masih berusia 8 tahun berhenti sekolah. Ia lalu bekerja sebagai tukang cuci piring di kapal uap yang mengarungi Sungai Volga. Di situ, tak jarang Gorky dibiarkan kelaparan, bahkan sampai dihajar oleh majikannya. Tapi, di kapal itu pulalah Gorky belajar membaca dan mencintai buku.

Gorky adalah orang pertama di Rusia yang menulis cerita dengan orang-orang terpinggirkan sebagai tokoh utama—gelandangan, pencuri—yang berjuang dalam kehidupan.

Kehidupan di sekitarnya yang “keras, menjijikkan, dan kejam,” kata Gorky, bukanlah hal yang nyata. Kenyataan hanya ada dalam buku. Di dalam buku, semua tampak jelas, beralasan, indah dan lebih manusiawi. Membaca, bagi Gorky, adalah pelarian. Sebuah usaha untuk lepas dari kejamnya kehidupan.

Ia lalu melewatkan masa remajanya di Kazan, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Menjadi tukang roti, kuli angkut, dan menjadi penjaga pada malam hari. Pada umur 21, Gorky mencoba melarikan diri, berusaha mengakhiri hidupnya dengan menembak paru-parunya sendiri. Tapi, dunia ternyata belum siap untuk ia tinggalkan. Gorky selamat. Ia lalu beranjak dari Kazan, berkelana selama kurang lebih dua tahun, berkubang dalam sisi kehidupan yang lebih kelam, menjadi gelandagan, mencuri, dan jatuh dalam dunia prostitusi.

Setelah itu, barulah karir Gorky sebagai penulis dimulai. Ia bekerja sebagai jurnalis untuk koran provinsi. Pada tahun 1892, cerpen pertama Gorky berjudul Makar Chudra dimuat dalam koran Kavkaz. Gorky adalah orang pertama di Rusia yang menulis cerita dengan orang-orang terpinggirkan sebagai tokoh utama—gelandangan, pencuri—yang berjuang dalam kehidupan. Selain cerpen, ia juga menulis novel dan lakon.

Tak lama setelah itu, karya-karyanya mulai dikenal oleh masyarakat dan rumor tentangnya didengar oleh Moscow Art Theatre sebagai “gelandangan dari Volga yang piawai menulis”. Beberapa lakonnya, The Smug Citizen (1902), The Lower Depths (1902), ditampilkan di sini. Gorky menyongsong pergantian abad dengan tekun berkarya.

Beberapa karya Gorky sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebut saja Pecundang dan Ibunda. Judul yang disebutkan terakhir, telah diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Jamak diketahui, Pram adalah salah satu sastrawan yang memperjuangkan mazhab realisme-sosialis di Indonesia. Belakangan, Gorky disebut sebagai bapak dari mazhab ini.

Dalam kurun waktu penciptaan novel Ibunda, yang dalam bahasa aslinya berjudul Matj itulah Gorky akrab dengan Marxisme. Lewat karyanya, baik cerpen, novel, atau pun lakon, Gorky berusaha memberikan protes terhadap dunia yang menurutnya “tak manusiawi”. Gorky menulis tentang ketidakadilan sekaligus melawan dan mengecamnya dengan keras. Pada masa itu, ia terlibat aktif dalam gerakan revolusioner. Dan nantinya, aktivitas politiknya ini akan membuat ia keluar masuk penjara, dibuang, dan terpaksa berpindah-pindah tempat. Menjadi seorang nomad sebagaimana masa mudanya.

Karya sastra….harus ditujukan untuk “membantu manusia memahami dirinya sendiri, memperkuat kepercayaan dalam dirinya, dan mengembangkan dalam dirinya daya untuk berjuang menuju kebenaran”

Karya-karya Gorky, selain diilhami oleh asam garam kehidupan, tentu juga dari bacaannya yang luas. Sekali lagi, perlu diingat, Gorky adalah pencinta buku. Ia membaca karya-karya—untuk menyebut beberapa—Tolstoi, Gogol, Dostoevsky, Griboyedov, Chekhov, Isaak Babel, dan Leskov. Di luar karya orang Rusia, ia mengaku bahwa ia tergugah, (amat) terpengaruh oleh karya-karya dari sastrawan Prancis—Stendhal, Balzac, dan Flaubert. Gorky menyebut mereka adalah orang-orang dengan kejeniusan yang tak dimiliki oleh pengarang Rusia kebanyakan.

Karya sastra, bagi Gorky, mesti ditujukan untuk “membantu manusia memahami dirinya sendiri, memperkuat kepercayaan dalam dirinya, dan mengembangkan dalam dirinya daya untuk berjuang menuju kebenaran”. Membangun rasa malu, memunculkan amarah serta keberanian agar manusia menjadi mulia dan menjadi kuat.

Semangat ini, ia dapatkan ketika pada akhirnya ia menyadari, bahwa selama ini ia diintimidasi bukan oleh hidup, tapi oleh lingkungan sosialnya, oleh kegagapan serta ketidak-berdayaannya dalam menghadapi itu semua. Gorky juga menyadari, bahwa hal ini juga dirasakan oleh orang-orang tertindas yang ada di sekitarnya. Pengoyakan luar dalam oleh borjuis pada kaum pekerja yang tertindas—inilah yang mesti dilawan oleh dan dengan sastra; menyadarkan, dan menyerang tanpa ampun.

Di masa muda, ketika belum cukup “tersadarkan”, Gorky mengatasi kekejaman dunia dengan cara membaca. Ia tahu ada manusia yang lebih baik dan lebih kejam di dunia ini dari buku. “Books were able to reveal to me something that I had not seen or known in a man,” kata Gorky.

Ada masa di mana Gorky menggunakan buku sebagai pelarian. Buku yang mampu menghadirkan sebuah tatanan dunia yang lain; kehidupan indah dan damai, tanpa dipenuhi kebengisan dan keserakahan. Buku sebagai jalan keluar tak menyakitkan, juga tak memalukan. Tak perlu rasa sakit, tak perlu lubang di paru-paru.

Gorky, pernah “dibutakan” dari realita kehidupan oleh buku.

Tapi ia bisa sembuh.

Pada akhirnya, sebagaimana kata Maxim Gorky, “Hidup, sebagai guru yang paling tegas dan bijaksana, telah menyembuhkanku dari kebutaan yang amat membahagiakan itu.”

_________

¹) Penulis adalah seorang pemikir yang mengubangkan diri belajar formal di Universitas Telkom. Seorang pendaki yang ingin meloloskan diri dari pengaruh absurditasnya Albert Camus. Belio juga punggawa PERIMATRIK. Sekarang baru bergabung dengan PEMBEBASAN Kolektif Kota Bandung. Jangan tanya status, sudah pasti belio jomblo yang tiap harinya ditelikung oleh obsesi menunda sepi.

Leave a Reply