SHARE

Oleh Muhammad Aras

 

Selain tentang tenaga kerja asing, dewasa ini penyingkiran kerja manusia oleh mesin jadi perbincangan para pekerja, pengamat, dan ahli-ahli ekonomi. Beragam kesimpulan dikemukakan, tapi mereka cenderung mengalihkan pokok masalah pada perkembangan teknologi sebagai biang persoalan. Argumentasinya, perkembangan teknologi akan segera mengganti para pekerja dari tempatnya bekerja.

Perbincangan tersebut bukanlah hal baru. Pada abad ke-19, dengan masuknya permesinan ke dalam proses produksi, lahir gerakan anti mesin (luddite) yang melakukan protes dengan menghancurkan alat-alat produksi, menentang masuknya metode-metode kerja baru (terutama mesin-mesin baru) karena takut lapangan pekerjaan mereka akan “digeser” oleh mesin. Mereka  menganggap perkembangan teknologi atau mekanisasi akan berbahaya bagi pekerja. Jalan keluar bagi mereka adalah meminimalisasi penggunaan teknologi untuk menghindari “pengangguran teknologi”.

Untuk membawa pada pemahaman serta jalan keluar yang tepat, kita tidak bisa melihat perkembangan mekanisasi secara sendiri-sendiri atau sekadar hasil penemuan seseorang. Perkembangan mekanisasi harus dilihat dan dipahami secara keseluruhan.

Faktor apa yang menjadi landasan perkembangan teknologi? Pertanyaan itu akan mengarah sekaligus menjawab pertanyaan mengapa dampak perkembangan mekanisasi bertentangan serta bagaimana jalan keluarnya.

Sebagai pengantar yang akan membawa pada kesimpulan yang tepat dari landasan perkembangan teknologi, kita perlu memahami karakteristik masyarakat kapitalis sekarang, yang berjalan menurut serangkaian ciri-ciri yang mempunyai sifat khusus.

Pertama, produksi dijalankan ketika alat-alat produksi dimiliki secara pribadi. Hal ini berarti bahwa kuasa untuk mengatur tenaga produktif (alat produksi dan tenaga kerja) bukan milik kolektif, melainkan milik perusahaan-perusahaan yang dikontrol oleh individu atau kelompok-kelompok kapitalis yang berbeda dan saling berkompetisi.

Kedua, produksi kapitalis bukan untuk kebutuhan pemenuhan hidup manusia, tetapi bertujuan untuk memproduksi komoditi yang akan dipertukarkan di pasar.

Ketiga, agar dapat bersaing dalam kompetisi penjualan komoditas antarkapitalis dengan produksi sejenis, mereka harus menawarkan komoditinya di pasar dengan harga yang lebih rendah dibanding pesaingnya.

Agar dapat menawarkan komoditi dengan harga rendah, para kapitalis harus menurunkan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas. Jalan yang paling efisien untuk menurunkan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas, salah satunya, adalah dengan bantuan teknologi, yang membutuhkan lebih banyak lagi teknik-teknik yang bekerja mekanis dengan sebuah tenaga penggerak.

Keempat, oleh karena itu, produksi kapitalis muncul sebagai produksi—yang tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan tetapi juga—untuk mengakumulasi kapital. Maka, logikanya, kapitalisme membutuhkan perluasan basis produksi untuk memproduksi lebih, agar mendapat banyak nilai lebih yang kemudian terus-menerus diakumulasikan secara produktif. Dengan kata lain, nilai lebih yang nanti didapatkan, lantas dipindahkan ke dalam kapital konstan dalam bentuk mesin-mesin dan bahan-bahan baku.

Sesungguhnya dalam perjuangan untuk bertahan dalam kompetisi, kapitalis harus terus menerus memperluas basis produksi serta mengganti para pekerja dengan mesin-mesin (kerja mati). Dan dalam kompetisi mengakumulasi kapital secara terus-menerus agar bertahan dalam persaingan, konsekuensinya adalah perkembangan teknologi yang menjadi tak terelakan.

Sebagai dampak dari perkembangan mekanisasi—seperti peristiwa gerakan “anti mesin” sebelumnya—peran para pekerja tergantikan oleh mesin. Penyingkiran yang semakin brutal dialami para pekerja oleh mesin-mesin canggih, yang dalam waktu tertentu mencabut mereka dari keahlian dan pekerjaan.

Bersamaan dengan penyingkiran para pekerja dari lapangan pekerjaannya, lahir beberapa konsekuensi. Misalnya, pengangguran yang semakin meluas atau upah pekerja menurun bahkan di bawah batas minimum kebutuhan primernya. Dan di sini, krisis overproduksi memainkan peranannya: produksi melimpah, pendapatan dan daya beli menurun, pengangguran meluas, munculnya kemiskinan ekstrem (bahkan kelaparan), yang akhirnya akan memicu ledakan sosial dan krisis politik.

Hal di atas mengisyaratkan sistem kapitalis telah siap untuk digantikan dengan sistem yang lebih manusiawi, sistem yang tidak lagi memubazirkan sumber daya manusia dan material. Tapi masalah krisis overproduksi ini tidak secara otomatis membawa kita pada runtuhnya tatanan kapitalis. Sebab, pada saat yang sama, kapitalisme memiliki cara untuk menetralkan dampak tersebut agar keadaan kembali normal.

Begitulah ciri yang melekat (inheren) dalam sistem kapitalis. Melalui tahapan yang berputar, pemulihan ekonomi, kenaikan, boom, krisis, dan depresi. Kemudian kembali lagi ke pemulihan ekonomi, kenaikan, “boom”, krisis, dan depresi. Begitu seterusnya. Tentu yang paling dikorbankan dan dirugikan dalam setiap kerusakan-kerusakan ekonomi kapitalis adalah buruh.

Di sisi lain, fungsi sejarah progresif kapitalisme yang bertentangan dari dampak sebelumnya ialah bahwa perkembangan mekanisasi menyebabkan peningkatan produktivitas kerja. Peningkatan produktivitas kerja itulah yang kemudian menciptakan dasar material bagi pembebasan umat manusia dari bekerja yang “terlalu keras dan menguras tenaga”.

Pertanyaannya, mengapa kemajuan teknologi yang sudah dapat membebaskan diri dari bekerja “terlalu keras dan menguras tenaga” hanya menyebabkan penyingkiran para pekerja dari tempat kerja? Kenapa kemajuan teknologi itu bukannya melahirkan kenikmatan hidup (jam kerja berkurang, produktivitas meningkat, dan harga barang menurun)?

Dari ciri masyarakat kapitalis di atas, kepemilikan alat-alat produksi secara pribadi itulah yang melatarbelakangi dampak buruk kemajuan teknologi. Kepemilikan alat-alat produksi secara privat berperan sangat penting, dalam arti siapa yang memiliki alat produksi maka dia pula yang menentukan pertukaran hasil produksi dan distribusi hasil produksi.

Memang kontradiksi internal dalam diri kapitalisme menjadikan gerak perekonomian selalu mengarah ke krisis-krisis dan akan memicu ledakan sosial. Bukan berarti tatanan masyarakat kapitalis akan runtuh seiring ledakan sosial itu terjadi. Namun ada prasyarat lain agar keruntuhan kapitalisme dapat digantikan dengan sistem yang lebih manusiawi, yaitu peran kondisi kesadaran kelas pekerja. Sistem kapitalis harus digulingkan oleh aksi sadar dari kelas revolusioner yang dimunculkannya, kelas proletariat, untuk kemudian mengambil alih alat-alat produksi agar dikontrol secara kolektif.

 

Bacaan Rujukan

Brewer, Anthony. 2016. Kajian Kritis Das Kapital. Yogyakarta: Narasi.

Mandel, Ernest. 2006. Tesis-Tesis Pokok Marxisme. Yogyakarta: Resist Book.

Leave a Reply