SHARE

[ Resume Diskusi ]*

 

Pengantar

Bisa dikatakan, sisi lain dari Agama adalah pengalaman manusia mencari bentuk spiritualitas dalam makna ketenangan jiwa, kedamaian hati, sebagai kontemplasi kasih sayang terhadap alam dan sesama manusia yang dicerminkan dalam perilaku keseharian, maka segala sesuatu metode pencapaian spiritualitas bisa menjadi upaya positif manusia dalam meninggikan moralitasnya. Ukuran moralitas dalam makna teologi pembebasan tentunya harus mempunyai dimensi mencintai rakyat miskin, menghapus penindasan.

Sehingga, dorongan utama agama harus bergulat dalam memikirkan konsepsi-konsepsi perubahan sosial, membangun tatanan masyarakat baru dalam pendekatan-pendekatan yang revolusioner.

Kini, keluhan-keluhan spiritualitas sepanjang agama hadir, lebih banyak berdasar pada hal-hal ekonomis (duniawi). Tentang kesabaran mencari rejeki, ketabahan menghadapi kemacetan, tetap tegar dipaksa mencapai target perusahaan, dibayang-bayangi wajah penagih cicilan rumah, kendaraan, kontrakan, ‘ikhlas’ diterjang banjir dan tanah longsor, dan lain-lain, dan lain-lain. Pada intinya, segala kesengsaraan duniawi dijawab hanya dengan mantra dogmatis: ‘sabar, itu semua cobaan’. Sungguh sebuah anestesi yang tidak akan pernah menyelesaikan akar problematikanya. Itu yang menjadi persoalan, menurut Asghar Ali, substansi agama tak seremeh itu.

Menjadikan agama sebagai instrumen melawan penindasan.

Pertama, yang awal perlu dilakukan adalah kita harus sanggup membuka diri tentang penafsiran-ulang atas Al-Qur’an. Membumikan Al-Qur’an tidak dalam makna sebagaimana yang dilakukan para ustadz televisi, mengambil untung dengan menyebar-nyebarkan ayat yang berjarak dari penderitaan rakyat. Membumikan Al-Qur’an berarti mendialektikakan ayat tuhan dengan realita (kenyataan objektif). Sehingga secara taktik, minimalnya adalah menguatkan dalil-dalil kitab yang menjawab persoalan rakyat, bukan berdakwah melipur-lara dengan iming-iming sorga, yang mengajarkan pamrih. Dalam teologi pembebasan, status dan isi Al-Qur’an tidak masalah karena memiliki watak aksiomatik (kebenaran mutlak). Sehingga yang diperlukan adalah penafsirannya. Dalam arena penafsiran inilah, tafsir idealis—yang menihilkan aspek ekonomi-politik—sedang menjadi pemenangnya.

Kedua, sebelum membahas yang tertulis dalam sub-judul, pertama-tama, secara jamak memang mudah ditemukan adanya selubung otoritas politik dalam Agama, pun sebaliknya. Yang menjadi catatan kritis adalah, Pertama: Agama, atau metode lain dalam mencari spiritualitas itu dilembagakan/diinstitusikan oleh Negara dan dimanfaatkan sebagai alat intervensi keputusan politik-kekuasaan. Kedua, yang membahayakan lagi adalah: jika otoritas Negara diselundupkan dalam ajaran keagamaan yang telah diinstitusikan, begitupun sebaliknya, gagasan keyakinan agama diselundupkan agar hidup dalam otoritas Negara. Penjelasan di atas sebenarnya tidak dalam makna sekularisme, tetapi lebih pada memahami potensi agar memulai menancapkan bendera perang posisi memanfaatkan ruang intervensi agar bergerak kea rah pembebasan.

Kini, situasi Indonesia mengarah pada hal-hal di atas sehingga, ada kenyataan yang mau-tidak-mau, terciptalah sebuah arena. Arena kosong itulah, oleh Asghar Ali Engineer—ini juga kritik Asghar terhadap kaum Marxis di Asia—tidak boleh dibiarkan sepi tanpa ada intervensi gagasan Marxis yang revolusioner. Menciptakan perang hegemoni, sekaligus perang posisi yang berwatak kelas. Dalam semangat itulah Asghar menyodorkan konsepsi teologi pembebasan Islam sebagai amunisi perang klas antara kaum Mustadh’afin melawan kaum Mustakbirin.

Dari situasi itulah spirit agama sudah harus dihadirkan di arena perlawanan. Kebutuhan utamanya kemudian adalah bagaimana tafsir dan spirit anti penindasan dari agama bisa memperpendek jarak antara agama dan realita penindasan. Sebab kini agama sering-kali absen di tengah-tengah penggusuran, perampasan ruang hidup, PHK massal, perampasan lahan, sistem upah murah & outsourcing, penindasan perempuan, kerusakan lingkungan.

Latar tempat dimana Asghar hidup, adalah lahir di India, tahun 1939. Seorang pekerja di sebuah perusahaan tehnik hampir 20 tahun. Setelah keluar, kemudian dia membuat perubahan di komunitas Dawoodi Bohra (Syiah Ismailiah). Yang hendak diubah Asghar adalah gerakan Bohra yang memiliki pemimpin gemar menindas, meminta jatah uang, dan otoriter (menyiksa). Pemimpin ajaran komunitas Dawoodi Bohra mengklaim sebagai da’i mutlak (selalu benar), ini yang ditentang Asghar Ali. Penentangannya berbuah pada penganiayaan Asghar Ali. Rumah dan kantornya pernah dihancurkan dengan bom.

Ternyata, pemahaman keagamaan bisa dijadikan alat untuk memapankan status quo. Kemudian, Asghar sendiri yang dipengaruhi oleh Marx, dan Ihwanussafa (rasionalisme), selama rentang 12 tahun menghasilkan 12 buku sejak 1972-1999. Pemikiran Asghar bisa dikategorikan ke dalam 4 bidang yaitu: Teologi Pembebasan, Komunalisme, Jender, Islam secara umum.

Di analisa pemikirannya bisa diambil 3 buku sebagai bahan kajian yaitu: islam dan teologi pembebasan, islam dan pembebasan, asal-usul perkembangan islam (analisa ekonomi-politik). Sedangkan, pilihan formulasi pemikiran Asghar Ali dibasiskan dari buku Asal-usul Perkembangan Islam. Buku tersebut adalah buku sejarah Islam, analisanya menggunakan pendekatan materialisme-historis. Selain berangkat dari teori materialisme-historis, Asghar banyak belajar dari Ibn-Khladun yang corak materialisme-historisnya terlihat ketika membagi pemikiran keagamaan yang hidup masa itu berdasarkan pada situasi setelah kekhalifahan Ali jatuh dan setelah masuknya Napoleon ke Mesir. Menurut Asghar Ali, teologi, setelah mengenal pemikiran spekulatif ala Yunani, membuat ilmu teologi terbawa spekulatif. Sehingga, teologi konvensional ini harus diruntuhkan.

Sejak itu, muncul teologi rasional yang di kemudian hari dikontraskan dengan mistifikasi dalam Islam. Gencar-gencarnya mistifikasi itulah yang berkontribusi atas kemunduran Islam sampai jauh ke belakang. Tokohnya adalah Muhammad Abduh. Sampai pada titik ini Islam hanya berhenti pada kontemplasi, persabaran dan jargon artifisial ‘Islam agama damai’, bukan pada aksi konkret melawan penindasan dan aksi politik melawan kapitalisme.

Sekali lagi, seruan Asghar Ali sudah tepat, agar mensinkretiskan Marxisme dan Islam karena agama adalah alat, sedangkan kehendak Tuhan, yang manifestasinya adalah anti penindasan, itulah tujuannya.

***

Asghar Ali mengutuk keras otoritarianisme politik karena, menurutnya, hal itu mengakibatkan adanya penindasan terhadap kebebasan berekspresi. Namun begitu, Asghar berpandangan bahwa otoritarianisme keagamaan lebih buruk daripada otoritarianisme politik. Karena otoritarianisme keagamaan tidak hanya menghalangi pertumbuhan kehidupan spiritualitas dan membangkitkan kebencian serta penghinaan terhadap yang lain, tetapi ia juga merusak kesejatian spirit akan komitmen terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi.

Jika selama selama ini kita menganggap bahwa agama hanya sebagai ratapan dsb, itu dikarenakan agama yang kita terima adalah ajaran yang dikonstruksi dalam rangka pro status quo dan memapankan penguasa korup. Seringkali, meski tak semua, jika agama dikorelasikan dengan perjuangan, posisi agama selalu menggagalkan perjuangan, hal itu, menurut Asghar Ali, disebabkan oleh pemikir-pemikir agama (dalam konteks ini adalah Islam) menggunakan arena agama untuk mendukung struktur mapan secara leluasa. Sebagaimana missal, Majelis Ulama Indonesia banyak sekali mengeluarkan fatwa-fatwa yang berdimensi moralitas beraroma islam-sentris, tetapi jarang sekali mengeluarkan fatwa mengharamkan kapitalisme beserta ekses-eksesnya yang merusak lingkungan, menyengsarakan buruh, memperluas kemiskinan.

Dalam pemikiran Asghar Ali soal keagamaan, dia sedang mendekonstruksi teologi menjadi dua: teologi konvensional dan teologi pembebasan. Teologi konvensional adalah ahlussunah wal jamaah (asy’ariyah dan maturibiyah), yang selama ini dianut oleh mayoritas pemeluk Islam. Di antaranya adalah penjabaran predestination atau jabariyah, sedangkan asyariyah sendiri adalah pelanjut dari Jabariyah. Jabariyah berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa, dan segala aktifitasnya sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa (Allah). Kaum jabariyah, menurut Harun Nasution dalam bukunya “Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan” adalah golongan yang menyatakan bahwa, manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham ini terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Sehingga jatuh pada fatalisme atau predestination. kontras dengan Qadariyah yang memiliki pengertian bahwa pada dasarnya manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya (free will dan free act).

Dinamika perkembangan Islam berkelindan dengan feodalisme.

Setelah kejatuhan Ali Bin Abu-Thalib, kepemimpinan Islam dipimpin oleh Mu’awiyah. Sejak itu, banyak sekali muncul orang kaya baru (OKB). Hingga berlanjut ke dinasti Ummayah, ekspansi Islam berkembang menandai dimulainya akumulasi kapital.

Sedangkan di masa-masa sebelumnya, musuh dari kekhalifahan adalah orang-orang kaya yang zalim, yang menumpuk-numpuk hartanya, yang tak mendistribusikan kekayaannya pada rakyat. Sebagai contoh, ada sebuah peristiwa tentang pemecatan sahabat nabi bernama Khalid bin Walid dari jabatannya secara tidak hormat oleh Umar bin Khattab karena memperkaya diri.

Dari situlah dibuat kebijakan pembatasan kepemilikan tanah oleh Umar, dan tidak dijalankan Utsman, lalu dijalankan ulang oleh Ali dan dihapuskan sejak kekuasaan Mu’awiyah.

Islam di masa Nabi Muhammad memiliki pertautan erat dengan upaya menentang kemapanan orang-orang kaya di Arab, salah satunya adalah dilarang menumpuk-numpuk harta. Latarnya historisnya adalah perdagangan bebas sehingga perlahan menghancurkan komunalisme masyarakat arab. Muhammad juga mengorganisir orang-orang yang tersingkir (pedagang kecil) dari perdagangan bebas skala besar dengan nama Hilf al Fudl (kelompok orang-orang tulus), dengan keras dan konkret menolak Riba. Dan kebijakan itulah yang membuat Muhammad disingkirkan.

Setelah sejarah ini diceritakan ulang oleh Asghar, ternyata kemunculan Islam membawa kandungan: spirit keberpihakan pada yang terpinggirkan, spirit anti-kemapanan, nilai revolusioner. Itulah inti dari ajaran teologi pembebasan Islam.

Dalam tafsir Asghar Ali, kandungan revolusionernya ajaran Islam pada masa Nabi bisa dilihat ketika mengartikan kafir. Ungkapan kafir ditujukan untuk orang yang tidak peduli terhadap fakir-miskin. Jadi, pemaknaan kafir tidak sekedar ditujukan kepada mereka melanggar aturan taqwa Allah (yang berdimensi transenden) semata. Orang yang beriman didefinisikan bukan hanya menyetujui keesaan Allah, tapi juga orang yang mencintai rakyat miskin, menolak riba, anti menumpuk keuntungan. Konsep tauhid dan taqwa juga diubah. Orang yang adil itu dekat pada ketaqwaan, orang adil adalah orang yang mendistribusikan kekayaannya kepada rakyat.

***

Susunan masyarakat Arab, terutama Mekah, secara ekonomi lebih unik atau berbeda dengan di Eropa dimana sistem perbudakan menciptakan sistem eonominya. Sedangkan di wilayah Mekah, sistem ekonominya tidak integral dalam moda produksi perbudakan (bukan konsekuensi langsung dengan moda produksi perbudakan). Masyarakat Mekah masa itu terbagi dua: masyarakat nomad (suku-suku Badui—yang berburu) dan masyarakat urban (yang menetap di ka’bah dst). Masyarakat urban Mekah, aktifitas produksinya bukan bertani, tapi berdagang. Keberadaan budak-budak yang di Mekah sendiri adalah budak yang dibawa para saudagar dari luar Mekah. Sehingga, terdapat karakter unik hasil dari perbudakan yang dicangkokkan dengan aktifitas perdagangan. Perbudakan itu sendiri muncul ketika Dinasti Umayyah menaklukkan Persia dan Bizantium. Memang ada gejolak pemberontakan para budak. Semisal di masa Utsman yang menikmati penumpukan kekayaan hingga memunculkan reaksi protes dari Amar bin Yasir. Termasuk situasi pergolakan budak di masa Ummayah di wilayah Kuffah. Ada pemberontakan Zan yang dipimpin budak-budak dari Afrika tepat di masa kejayaan dinasti Abbasiyah.

Budak masa itu menjadi salah satu bagian paling menentukan di masyarakat, akan tetapi paling tertindas. Tingkat penindasan kepada budak begitu merendahkan martabat manusia, hak hidup budak tergantung pada siapa yang memilikinya (yang membelinya). Bahkan budak itu sendiri masuk dalam item yang bisa diperjual-belikan, menjadi sebuah komoditi. Muhammad pun bergerak pada wilayah itu. Dengan tujuan utamanya adalah membebaskan budak (memerdekakan budak), terlepas dari metode pembebasan budaknya yang gradualis dan tidak masuk dalam akar pertentangan klas-nya, tapi pada zamannya, Muhammad adalah pelopor pembebasan budak.

Sehingga, untuk melihat posisi perjuangan Muhammad itu diletakkan sebagai individu yang merespon situasinya. Situasi Mekah pada massa itu sebagai pinggiran, bukan feodalisme murni karena situasi alamnya tidak memungkinkan orang Mekah untuk bertani. Dan tanahnya tidak dimiliki individu malainkan milik komunal. Mekah dan Madinah itu tidak ada despotisme yang mapan, tatanannya dibuat oleh kepala-kepala suku, dan mereka membuat senat-senat. Mekah sendiri adalah jalur dagang internasional. Syarat objektif untuk menghancurkan perbudakan juga masih belum ada. Akan tetapi, secara umum spirit pembebasan budak hidup sebagai sebuah nilai kemanusiaan.

Benar bahwa sumber segala-sesuatunya datang dari Tuhan, akan tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia.

 

(Artikel ini adalah resume diskusi Teologi Pembebasan Islam yang disampaikan oleh Yoga Zara Andrita, disusun, diedit dan dinarasikan oleh Barra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here