SHARE
TOPSHOTS Handout photo released by the Venezuelan Presidency of Venezuelan President Nicolas Maduro as he raises his fist during a rally in Caracas, on February 18, 2014. Fugitive Venezuelan opposition leader Leopoldo Lopez, blamed by Maduro for violent clashes that left three people dead last week, appeared at an anti-government rally in eastern Caracas and quickly surrendered to the National Guard after delivering a brief speech. AFP PHOTO / PRESIDENCIA

Tidak Seperti Apa yang Disiarkan di Televisi, Kekerasan di Venezuela Dilakukan oleh Kaum Oposisi

Kabar miring dari media swasta Venezuela dan media internasional pada apa yang terjadi di Venezuela adalah:

Pemerintah bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi . Dalam kejadian pertama, pemerintah memberikan instruksi kepada pasukan bersenjata agar menembaki demonstrasi damai, dan, kekerasan yang dilakukan oleh oposisi hanya respon atas kebrutalan polisi dan pasukan militer. Tapi ada bukti yang cukup kuat menunjukkan bahwa kekerasan, termasuk yang dari pengendara sepeda motor tak dikenal terhadap para demonstran, telah dilakukan oleh oposisi. Pertimbangkan 10 hal berikut (berita-berita media yang tidak logis):

  1. “La Guarimba”, atau “Foquismo” yang juga berarti “tindakan kekerasan” telah dipropagandakan dan dilakukan oleh kaum oposisi sejak masa kudeta (terhadap Chavez) tahun 2002. Bahkan, sepanjang tahun 2003-2004, pola kekerasan dianjurkan oleh pemimpin oposisi kepada publik sebagai satu-satunya cara untuk mencegah pembentukan sebuah rezim dictator di Venezuela.
  1. Pada tanggal 11 April 2002, hari dimana Chavez digulingkan, media di Venezuela (yang sudah dikuasai kaum oposisi), media Internasional dan Gedung Putih menggunakan gambar video dari Chavistas (untuk propaganda anti Chaves) yang menembakkan pistol di pusat kota Caracas, sementara, di sisi lain, menggunakan gambar video dari barisan demonstrasi damai anti Chavez untuk membenarkan kudeta. Namun, documenter dari Irlandia memproduksi (film) “Revolusi Tak Ditayangkan di Televisi” dan documenter lain memperlihatkan kamera video bahwa massa demonstran anti Chavez ternyata jauh dari barisan Chavistas, dan para Chavistas sesungguhnya sedang mengarahkan tembakan ke sumber suara dimana ada penembak jitu (sniper) dipasang oleh anti Chavez yang menembaki massa Chavistas.
  1. Kekerasan yang mengguncang Venezuela selama 2 minggu terakhir menarget gedung-gedung public milik pemerintah seperti, markas besar Fiscalia General (Kejaksaan Agung), stasiun televise pemerintah (Channel 8), Banco de Venezuela (BI-nya Venezuela), rumah Gubernur Chavistas di Tachira, truk-truk dari Producción y Distribución Venezolana de Alimentos-PDVAL (Perusahaan Produksi dan Distribusi Makanan Venezuela) dan puluhan bis perkotaan di Caracas.
  1. Tidak satupun dari para pemimpin oposisi secara eksplisit mengutuk kekerasan yang dipromosikannya. Walikota di Caracas justru telah menahan diri menggunakan kepolisian untuk kekerasan.
  1. Yang disebut demonstrasi damai adalah menutup jalan dengan tujuan untuk melumpuhkan jalur transportasi. Di kota kembar Barcleona dan Puerto La Cruz, para demonstran menduduki dua dari 3 jalan utama. Sejumlah keadaan darurat (orang-orang yang sakit) telah dilaporkan dan kesulitan untuk dibawa ke Rumah Sakit atau klinik tepat waktu akibat penutupan jalan.
  1. Istilah “salida” atau “jalan keluar” telah menjadi slogan utama demonstran untuk sebuah pergantian rezim. Jelas bahwa kaum oposisi tidak menyerukan solusi yang konstitusional (sebagaimana yang ditetapkan konstitusi) dimana Maduro dipaksa mengundurkan diri dan segera digantikan oleh Diosdado Cabello yang menjabat di Majelis Nasional. Perubahan rezim itulah yang dimaksud sebagai slogan radikal yang menyiratkan taktik radikal.
  1. Ilmuwan Politik dan seorang pengamat Venezuela, David Smilde dari Universitas Georgia, yang bukan pro Chevista, tapi dalam analisanya memihak, menyatakan bahwa pemerintah Venezuela tidak pernah menggunakan/melakukan kekerasan.
  1. Pemerintah tidak mendapat keuntungan apa-apa jika melakukan tindak kekerasan, karena media sebagian besar dikuasai oposisi pemerintah, bahkan media menyajikan gambar/video kekerasan yang secara langsung maupun tidak langsung memfitnah (mengarahkan opini public) untuk menyalahkan pemerintah. Mari kita simak petikan artikel dari majalah El Universal di halaman terdepan dengan judul “Malam Kekerasan, Ibukota Menderita” tertanggal 20 Februari 2014, salah satu surat kabar utama Venezuela:

“Tadi malam, Garda Nasional dan Kepolisian hampir bersamaan, dari pusat kota, menyerang demonstrasi yang terjadi di daerah-daerah yang berbeda. Dalam konfrontasi ada tembakan dan gas air mata, sementara orang-orang memukul-mukul panci dan wajan dari jendela mereka (sebagai protes pemerintah).”

  1. Oposisi telah mengkampanyekan bahwa pemerintah Venezuela melakukan pengekangan dan kekerasan terhadap kaum oposisi.
  2. Pemerintah, terutama yang tidak demokratis, yang tidak memiliki dukungan aktif dari rakyat dan yang mengontrol media, secara efektif memakai cara penindasan untuk para pembangkang. Hal ini tidak terjadi di Venezuela. Tidak satupun stasiun televise dan surat kabar non-pemerintah (yang sebagian besar rakyat Venezuela melihat dan membaca siarannya) mendukung pemerintah, dan kebanyakan mereka sangat anti-pemerintah. Selain itu, tidak seperti apa yang dikatakan (bahwa pemerintah menggunakan represi), pemerintah Chavista dan gerakan memiliki kapasitas mobilisasi yang lebih besar, khususnya popular di kalangan penduduk, bahkan di wilayah oposisi. Seperti yang dikatakan Smilde, bahwa, penggunaan kekerasan oleh pemerintah menjadi benar-benar tidak masuk akal.
Lihat saja, headline judul-judul berita tentang Venezuela yang terpampang pada media online maupun cetak di Indonesia, semua berbicara tentang kejahatan pemerintahan Venezuela. Negeri yang sedang melangsungkan proyek sosialisme itu benar-benar dikepung oleh propaganda hitam para musuh revolusi.***

Selamatkan Sosialisme, Selamatkan Revolusi Venezuela.

 

 


* Dialihbahasakan oleh Barra dari www.venezuelanalysis.com

Leave a Reply