SHARE

[Barra]

 Setelah Marx, filsafat tak lagi sama seperti saat sebelum Marx

 

Bagi kita, yang membuat Marx istimewa adalah dia menulis di dalam konteks terjadinya serangkaian peristiwa. Dengan begitu, isi gagasan Marx berjalan dinamis dengan kenyataan, menyebabkan munculnya perpindahan-perpindahan posisi yang diakuinya secara jujur, sejurus kemudian dia mengkonstruksi gagasannya sendiri; menghasilkan kebaruan pemikiran. Sehingga, akan sangat sukar memahaminya tanpa melacak apa yang melatar-belakangi perkembangan pemikiran Marx. Beruntunglah Louis Althusser membuat periodisasi perkembangan gagasan Marx dengan istilah Coupure Epistemologique. (patahan epistemologis). Secara sederhana dibagi menjadi periode ideologis (sebelum 1845) dan periode scientific (setelah 1845).

Penggambaran Marxisme sebagai sebuah pandangan dunia beberapa waktu yang lalu berangkat dari penyimpulan terhadap rumusan ‘tiga sumber Marxisme’, yaitu: filsafat jerman, sosialisme Prancis dan ekonomi-politik Inggris. Rumusan ini bersumber dari karya F. Engels yang membelah uraiannya mengenai materialisme-historis di dalam karyanya Anti Duhring (1878), dan yang melakukan mapping sejarah relasi-relasi anti tesis antara materialisme dan idealisme, antara metafisika dan dialektika. Skema ini kemudian disistematisasi oleh Kautsky dalam ceramahnya tahun 1907 dengan judul “Tiga Sumber Marxisme; Karya Historis Dari Marx”. Dalam cerahnya, Kautsky menyatakan bahwa “ilmu mengenai masyarakat dari sudut pandang kaum proletariat” merupakan “sintesis dari pemikiran Jerman, Prancis dan Inggris”. Ceramah itu dimaksudkan bukan hanya untuk mempromosikan internasionalisme, namun juga untuk memperlihatkan betapa teori tentang kaum proletariat merupakan totalisasi dari sejarah Eropa, yang hadir di tengah-tengah dominasinya yang universal. Lenin mengadopsi rumusan ini dalam sebuah pidatonya di tahun 1913 dengan judul “Tiga Sumber dan Tiga Komponen Pokok dari Marxisme”.

Penggambaran simbolik mengenai kombinasi dari beberapa komponen kultur ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru; penggambaran itu justru mencerminkan masih berpengaruhnya mitos agung “triarki Eropa” seperti yang pernah disebutkan oleh Moses Hess (yang menggunakan ungkapan itu sebagai judul dari salah satu bukunya pada tahun 1841) dan yang dipakai oleh Marx di dalam karya-karya awalnya dimana gagasan mengenai kaum proletariat muncul pertama kali.

Jika kita buang impian untuk menghidupkan sebuah totalisasi pemikiran arketipe “tiga komponen dunia” ini (sebuah dunia yang terbatas hanya pada Eropa), akan muncul pertanyaan mengenai darimana “sumber-sumber” pemikiran filosofis Marx, atau apakah relasi-relasi khas dari pemikiran Marx dengan karya teoretisasi-teoretisasi di masa lalu. Dalam sebuah karya mutakhir yang sangat menarik, Constanto Preve memberi kita sebuah petunjuk dengan menyebut ada “Empat Guru” dari Marx yaitu: Epicurus (yang dibahas Marx dalam karyanya On The Difference between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature; 1841) untuk ide tentang materialisme kebebasan, dan untuk ide metaforis di dalam doktrin clinamen atau “gerak benturan” yang acak antar atom-atom; J.J. Rousseau dengan idenya mengenai demokrasi egalitarian atau bentuk perhimpunan yang didasarkan pada partisipasi langsung warga Negara di dalam proses pembentukan kehendak umum; Adam Smith dengan pandangannya bahwa basis dari hak milik ialah kerja yang diaktualisasikan; dan yang terakhir, G.W.F. Hegel, yang merupakan tokoh paling penting dan paling ambivalen, dan menjadi sumber inspirasi sekaligus lawan tiada henti buat Marx dalam pemikirannya mengenai “kontradiksi dialektik” dan historisitas. Hegel juga menjadi basis pijak bagi Marx dalam menyatakan posisi teoretiknya mengenai dialektika. Oleh Marx, dialektika Hegel diberikan jalur agar bisa operasional dalam kenyataan objektif (realita dunia) sebagaimana penjelasan mengenai “segala sesuatu yang berpolemik memiliki kandungan dialektik”. Keunggulan skema “Empat Guru” ini bisa membuat kita fokus pada sifat kompleksitas internal dari karya Marx dan pada pergeseran-pergeseran tiada henti dari pemikiran Marx yang menjadi ciri khas dari hubungan kritis Marx dengan tradisi berfilsafat yang lama.

Matang Karena Perseteruan Filsafat

Artikel-artikel yang membahas rangkaian kejadian selama masa-masa pengalaman revolusioner tahun 1884 atau 1871, atau yang dijadikan sebagai bahan diskusi dalam International Workingman Associations juga merupakan artikel yang membalikkan hubungan tradisional antara masyarakat dan Negara, dan yang mengembangkan sebuah ide demokrasi radikal yang pertama kali ditulis Marx dalam catatan-catatan kritisnya tahun 1843, yang ditulis di bagian pinggiran karya Hegel, Philosophy of Right.

Tulisan-tulisan polemiknya dengan Proudhon, Bakunin, Lasalle juga merupakan tulisan-tulisan dimana di dalamnya kesenjangan antara skema teoretis dari perkembangan ekonomi kapitalis dan sejarah riil masyarakat borjuis bisa terlihat jelas. Kesenjangan di antara keduanyalah yang menjadi dorongan Marx untuk membuat skema dialektika yang original, yang lebih dari sekedar membalikkan ide Hegelian mengenai gerak kemajuan Roh.

Kemunculan Althusser

Pada era 60 dan 70-an, pedebatan dalam membahas sistematika pemikiran filsafat Marx seputar bagian “patahan” dan “retakan”, yang menghinggapi Marx—menurut Althusser—pada tahun 1845.

Lebih jauh lagi, sistematika pemikiran Marx dibuat oleh Althusser sebagai berikut (pemetakan ala Althusser ini pernah dijabarkan oleh Martin Suryajaya dalam Indoprogress—dibuat bagan untuk memudahkan visualisasinya):

 

———

[ Disarikan dari pandangan pemikiran Etienne Balibar ]

Leave a Reply