SHARE
Gambar: https://communismgr.blogspot.co.id/2016/08/communist-party-turkey-kp-letter-to.html

[ Artikel dari Mehmet Döşemeci, dialihbahasakan oleh Barra ]

 

Asalkan pemberontakan tidak dihancurkan atau dibajak—dan tidak gagal—dia (pemberontakan) memiliki potensi untuk menciptakan perubahan jangka panjang dalam demokrasi Turki.

 

Tindakan yang diambil oleh sebuah koalisi aktivis terhadap perusakan taman umum (dengan keluarnya kebijakan pemerintah untuk membangun pusat pertokoan) di pusat Istanbul telah menyebar ke lebih dari 60 kota dan provinsi, membawa beberapa juta orang turun ke jalan dalam protes yang meluas terhadap pemerintah AKP yang berkuasa (AKP adalah partai penguasa—Partai Keadilan dan Pembangunan atau Adalet ve Kalkınma Partisi—AKP). Pemerintahan Turki mematikan semua komunikasi, dan menggunakan pengaruhnya atas media nasional untuk menutup informasi tentang perkembangan pemberontakan, bahkan, di televisi kebrutalan polisi enghadapii demonstran tidak disiarkan.

Pada 8 Juni 2013, polisi telah ditarik dari Taksim Square, meninggalkan (sementara) para demonstran. Sedangkan, para pengunjuk rasa telah mendirikan barikade dengan jarak tiap 50 meter di sepanjang rute utama menuju alun-alun. Situasinya, terjadi bentrokan besar di daerah lain sekitar Istanbul (yang merupakan kota terbesar di Turki) dan di banyak kota di seluruh Turki. Ada tiga orang dikonfirmasi tewas, ribuan terluka, penangkapan massal, dan laporan yang belum dikonfirmasi dari meluasnya represi dan penyiksaan oleh polisi.

Artikel ini tidak bertujuan untuk memberikan laporan struktural penyebab pemberontakan, suatu usaha yang, seperti obituari untuk seorang selebriti, bisa ditulis sebelum pemberontakan bahkan setelahnya. Artikel ini dibuat untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi di Turki. Ada beberapa dari mereka berbicara tentang Turki kemarin dari Turki esok hari. Sebaliknya, artikel ini mencoba untuk menguraikan peluang apa yang paling mungkin bisa diambil dari pemberontakan.

Kekerasan negara dan modal

Dimulai dengan serangan sebelum fajar di Gezi Park pada 30 Mei yang merupakan reaksi negara dengan memanfaatkan polisi anti huru hara, menyerang massa dengan jumlah gasairmata, water canon, dan peluru karet.

Meskipun telah ada sejumlah kasus yang sudah terkonfirmasi dimana milisi sipil/preman dari AKP (partai penguasa) yang didukung oleh polisi menyerang aksi damai, bahkan Erdogan (Perdana Menteri Turki, juga pimpinan AKP) telah memberikan ancaman untuk mendatangkan para pendukung partainya—sebagai aksi tandingan. Meski pada tanggal 4 Juni, Kepolisian Istanbul mengeluarkan perintah untuk menahan diri dari penggunaan gas airmata (kecuali untuk pembelaan diri) namun, agresi pihak kepolisian berjalan terus di seluruh Turki. Namun, para pengunjuk rasa telah menunjukkan pertahanan diri yang luar biasa.

Berapa lama situasi ini akan bertahan? Itu adalah pertanyaan yang terbuka. Seperti pemberontakan yang telah meluas, ia mulai memiliki dampak nyata pada fungsi kapitalisme Turki sendiri. Pusat perdagangan utama di seluruh Turki telah berubah menjadi kuasi (hampir seperti) medan perang, pasar saham turun lebih dari 10 % pada hari pertama perdagangan setelah dimulainya pemberontakan, dan protes yang mulai mempengaruhi penawaran harga gas menguntungkan Turki dengan negara tetangganya. Pada hari Selasa, Wakil Perdana Menteri Bulent Arinc memperingatkan bahwa protes telah menelan biaya ekonomi 70 juta lira Turki (28 juta Euro, atau Rp. 361.2 Miliar).

Jika “gangguan” ini berkelanjutan, atau diintensifkan oleh pemogokan berskala besar, situasi dapat berubah secara dramatis. Sementara pemerintah tampaknya sedikit menunda serangan, mungkin berharap agar bisa keluar dari badai, rupanya kapitalisme jauh lebih sabar dan memiliki banyak teman. Jika ibukota Turki dan internasional merasa bahwa pemberontakan menimbulkan ancaman bagi kepentingan mereka, Erdogan akan menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengatasi krisis. Skenario seperti itu akan memiliki dua solusi: meningkatkan dukungan untuk Erdogan dan eskalas kekerasan negara, atau tekanan internasional untuk Erdogan untuk meredakan situasi (melalui konsesi atau mengundurkan diri) dan konsekuensinya adalah de-eskalasi kekerasan negara. Hal yang terakhir itu lebih mungkin.

Pemberontakan dibajak oleh pihak oposisi

Pemberontakan Yunani dan Spanyol yang meletus pada musim panas tahun 2011, ditandai dengan penolakan total tatanan politik yang ada. Protes ditujukan tidak hanya kepada pemerintah yang berkuasa tetapi melawan sistem politik dalam totalitasnya. Semua partai politik yang ada, dalam realitanya adalah seluruh sistem demokrasi parlementer representatif, menjadi sasaran serangan massa. Masyarakat yang menolak keberadaan mereka (partai politik dan sistem demokrasinya) memberontak terhadap “demokrasi”, lalu pendudukan Yunani dan Spanyol diciptakan, melalui jaringan mereka yang luas dari majelis umum (assembly), membangun struktur demokrasi langsung yang mereka yakini sebagai alternatifnya.

Situasi saat ini di Turki berbeda. AKP telah telah menjadi pemilik tunggal kekuasaan pemerintah sejak tahun 2003. Akibatnya, berbagai partai-partai oposisi, dipimpin oleh Partai Rakyat Republik (RPP) dan Partai Aksi Nasional (RAN), tidak menjadi sasaran serangan massa, pemberontakan hanya ditujukan kepada AKP, dan hanya AKP yang menjadi akar masalah. Sama seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, partai-partai oposisi benar-benar lengah dengan besarnya skala pemberontakan dan telah secepatnya menyisipkan diri ke dalam situasi. Bagi mereka, para pengunjuk rasa telah menunjukkan keinginan yang luar biasa untuk bergerak melampaui kesetiaan politik, etnis, dan ajaran agama yang usang.

Seperti hari-hari yang telah berlalu, bendera Turki dan nyanyian nasionalis “kita adalah prajurit dari Atatürk” (Ataturk bernama lengkap Mustafa Kemal Ataturk sebelumnya bernama  Ghazi Mustafa Kemal Pasha adalah tokoh revolusi Turki, pendiri Negara Turki setelah berhasil mengalahkan pasukan sekutu yang mengalahkan rezim Utsmaniyah paska perang dunia I) telah membuat jejak mereka di jalanan. Yang mungkin lebih mengkhawatirkan adalah upaya dari pemimpin oposisi dan anggota parlemen memanfaatkan peristiwa ini, mengklaim bahwa oposisi—meski terlambat—ada di balik pemberontakan, dalam pidato-pidatonya memuji keberanian pemuda Turki ini. Jika tren ini mempercepat kemungkinan bahwa pemberontakan bisa berpindah ke referendum paksa (sukses atau tidak) kepada pemerintahan AKP, meninggalkan dasar sistem politik.

Kelelahan pemberontakan

Sebuah perhatian datang terus-menerus dari pihak yang terlibat dalam pemberontakan yaitu tentang kemungkinan kelelahan diri dari pemberontakan. Sejauh ini ketakutan tersebut tidak bisa dibenarkan sebab, minggu pertama dari protes telah ditandai oleh peningkatan jumlah demonstran dan perluasan keterlibatan dari berbagai latar belakang sosial dan politik. Pada akhir pekan, aktivitas pertempuran membuat sebuah pekerjaan untuk hari minggu, pusat kota Turki telah permanen diduduki oleh beberapa kelompok sesuai dengan pembagian hari. Kelompok aktivis yang lebih radikal, melakukan tugas penjagaan di malam hari bersama dengan serikat pelajar selama hari kerja.

Kerumunan terbesar terjadi selama ketika malam hari, pekerja kerlas menengah dan bawah bersama keluarganya datang ada yang jalan-jalan, terlibat dalam protes dan berbagi berita terbaru. Sementara, kelompok kiri yang lebih radikal menilai bahwa harus mengambil bentuk lebih keras lagi, dan mereka menilai ini terjadi penurunan semangat juang.

Berapa lama pemerintah akan membiarkan barikade dan pendudukan tanpa polisi di tengah-tengah wilayah demonstran juga belum jelas kabarnya. Pada hari Jumat, Kepolisian Istanbul mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan menahan diri untuk mengambil tindakan lanjutan sampai hari Senin, setidaknya, membiarkan sementara pusat kota berada dalam penguasaan demonstran sampai akhir pekan. Pada gilirannya nanti, kelanjutan dari kebuntuan bisa mengarah pada pemborosan energi pemberontakan, seperti pemerintahan AKP dalam mengatur sistem perbankan.

Ruang dan waktu bagi penciptaan revolusioner

Asalkan pemberontakan tersebut tidak dikalahkan oleh represi mematikan, tidak dibajak oleh wacana nasionalis yang berfungsi hanya untuk memberdayakan oposisi, dan tidak gagal karena kelelahan, ia (pemberontakan) memiliki potensi untuk menciptakan perubahan jangka panjang dalam praktek kewarganegaraan dan perwakilan demokratik di Turki. Jalan ini harus melibatkan rekonfigurasi besar-besaran atau parsial dalam partisipasi politik di Turki. Melibatkan penciptaan bentuk-bentuk baru praktik yang demokratis, dan berdiri (tanpa adanya pemberontakan besar pekerja) sebagai hasil yang paling revolusioner dari pemberontakan. Hal ini jugalah, tanpa sangkalan, yang paling berbahaya dan rapuh dari satu solusi yang mungkin untuk kehancuran.

Aspek yang paling mendalam—namun diabaikan—dari pemberontakan yang mengguncang dunia Mediterania pada tahun 2011 adalah keterlibatan yang tak terhitung jumlahnya dari lembaga yang secara spontan muncul. Di Kairo, aparatur negara akhirnya mundur (meskipun sebelumnya telah melakukan lebih dari 800 kali pembunuhan), dari satu juta orang demonstran. Dalam ruang ini, rakyat Mesir terorganisir dan mengatur keamanan mereka sendiri, dan menciptakan layanan untuk orang tua dan orang miskin.

Kaum revolusioner Mesir membentuk jaringan pasokan makanan dan informasi, mengatur taman kanak-kanak, ditangani oleh agitator yang disewa, dan melindungi praktik keagamaan masing-masing. Inisiatif-inisiatif perjuangan terlihat lebih nyata di Yunani dan Spanyol, dimana konsolidasi dan pertemuan-pertemuan malam diberdayakan dan didanai oleh sebuah sub komite untuk pengadaan makanan, keamanan, obat-obatan, hortikultura, informasi, tato, dan media, mengelola semua aspek organisasi sosial dan politik di dalam taman sendiri. Kehidupan di taman kota ini (tempat pendudukan) menjadi bukti kuat untuk orang-orang bahwa kita bisa membangun perkumpulan tanpa adanya kekuasaan negara.

Praktek dan bentuk yang serupa, berkembang dalam pemberontakan Turki. Jaringan dukungan medis dan hukum, jalur pasokan pelayanan pengunjuk rasa dengan makanan gratis, perlengkapan, akses internet, dan safehouses, bahkan bangunan kolektif barikade dan organisasi jaga malam (piket) untuk melindungi zona bebas dari serangan polisi, adalah bukti dari semangat ini. Mungkin yang lebih penting adalah bagaimana tindakan-tindakan solidaritas melalui jaringan media sosial, dan kemurahan hati rakyat Anatolia[2].

Meski hal tersebut masih terjadi karena awal-awal semangat namun, kondisi untuk membangun inisiatif pemisahan dan membentuk struktur yang lebih permanen mulai terjadi. Selama beberapa hari terakhir Taksim Square telah menjadi ‘zona bebas’, sebuah oase rapuh yang dikelilingi oleh barikade besar dan pernah berkembang. Pada 5 Juni perpustakaan rakyat, puluhan makanan gratis, selimut, dan stasiun pasokan medis, tenda LBGT dan kesadaran gender, area untuk pertunjukan musik dan pidato politik telah didirikan di alun-alun. Untuk hari libur keagamaan Kandil, demonstran telah menyiapkan ruang alternatif untuk doa dan tari, dan mengundang semua orang di alun-alun untuk mencari orang asing yang berbeda keyakinan politik untuk duduk dan mengobrol bersama.

Zona bebas polisi tersebut juga menjadi suatu kebutuhan fundamental di tempat lain di Turki. Membentengi diri dari tindakan pelecehan polisi, terbebaskan dari ancaman bubaran, perkemahan ini menciptakan praktek-praktek baru, kesetiaan, dan bentuk-bentuk kelembagaan organik dalam pemberontakan (struktur revolusioner). Hanya waktu yang akan membuktikan apakah taman ini dapat dipertahankan dan apa yang akan diperbuat oleh rakyat Turki kepada mereka. Satu hal, bagaimanapun juga, sudah jelas bahwa: jika terjadi rekonfigurasi bidang politik Turki, maka itu akan terjadi di sini.

Di sini, media selama hari-hari awal pemberontakan selalu menutupi (dikontrol oleh pemerintah), bahkan mematikan siaran. Media malah menyiarkan film dokumenter tentang penguin Antartika, sementara bentrokan sedang dilancarkan di setiap kota besar di Turki sehingga menarik orang menjauh dari televisi mereka. Hal ini juga memaksa orang untuk berdiskusi dan berdebat di antara mereka sendiri tentang makna dan arah pemberontakan daripada lelah menunggu pendapat dari siaran media di Turki yang menunda-nunda siaran. Namun, saluran televise utama, perlahan-lahan mulai untuk melaporkan peristiwa yang sedang berlangsung, ini adalah sesuatu yang perlu diingat.

Baru-baru ini Presiden Turki Abdullah Gül mengatakan bahwa “demokrasi tidak berarti pemilihan saja.” Sebuah pernyataan yang jelas dan pertama kali dari pimpinan AKP mengakui kebenaran situasi. Untuk pernyataan ini kita akan menambahkan satu hal. Untuk saat ini, pemberontakan tersebut telah berada dalam demokrasi pasrtisipasi kolektif dan menjadi puisi rakyat Turki. Sejauh ini, mereka menolak untuk mempercayakan perjuangan di bawah kepemimpinan siapapun, apakah unsur lama, unsur baru atau militer. Dengan cara itulah, akan efektif untuk menjaga perjuangan pemberontakan dari sebuah negara yang memiliki kepemimpinan kuat sejak awal.

Sekarang lah saatnya, Turki memaknai secara dalam slogan yang diucapkan berkali-kali sepanjang sejarahnya bahwa “there can no longer be a revolution for the people in spite of them.” ***


[1] Mehmet Döşemeci adalah asisten profesor sejarah di Bucknell University. Dia baru saja mulai sebuah proyek penelitian baru menjelajahi sejarah pergolakan radikal rakyat di Eropa dan Timur Tengah, memberikan perspektif historis untuk populernya pemberontakan yang telah menjamur di seluruh cekungan Mediterania sejak 2011.

[2] Anatolia adalah sebuah wilayah di Turki yang merupakan perbatasan antara Asia dan Eropa, tempat lahir dan berkembangnya peradaban kuno Neolithikum, sering disebut dengan istilah “Asia Kecil”.

Leave a Reply